Langsung ke konten utama

makalah bani umayyah



MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI  UMAYYAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Drs.H.M.Mudhofi.M.Ag

Disusun Oleh :

Maria al suryani        (1601036164)
Fatimatuz Zahro       (1601036024)

MANAGEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Bani Umayyah adalah Nama Daulah Umayah berasal dari nama Umayah ibnu abdi Syams ibnu Abdi manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin- pemimpin Quraisy zaman jahiliyah. Umayah dengan pamanya, Hasyim ibnu Abdi Manaf untuk merebut pimpinan dan kehormatan dalam masyarkat bangsanya.

B.   Rumusan Masalah
1.      Apa Sejarah Daulah Bani Umayyah ?
2.      Apa Saja Kebijakan-kebijakan bani Umayyah ?
3.      Apa Sistim Sosial Bani Umayyah ?
4.     Apa Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Bani Umayyah ?
                          














BAB II
PEMBAHASAN
A.Sejarah Daulah Bani Umayah
I. Asal usul Nama Daulah Umayah
Nama Daulah Umayah berasal dari nama Umayah ibnu abdi Syams ibnu Abdi manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin- pemimpin Quraisy zaman jahiliyah. Umayah dengan pamanya, Hasyim ibnu Abdi Manaf untuk merebut pimpinan dan kehormatan dalam masyarkat bangsanya.
Sesudah datang agama islam, hubungan antara Bani Umayah dengan saudara-saudara sepupunya Bani hasyim berubah. Oleh karena persaingan untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan tadi sifatnya berubah menjadi permusuhan. Bani Umayah dengan tegas menentang Rasulullah, sedang Bani Hasyim itu menyokong rasuulullah. Adapun sebab terjadinya permusuhan itu:
1.      Takut kedudukan  mereka dalam masyarakat diambil alih oleh Rasulullah. (keturunan Bani Hasyim).
2.      Ajaran-ajaran Rasulullah (Islam) bertentangan dengan agama nenek moyang mereka (Jahiliyah).
Tetapi mereka terpaksa menyerah dan masuk Islam karena:
1.      Pegikut Rasulullah makin lama makin banyak.
2.      Karena kota makkah di taklukan kaum muslimin maka banyak orang kafir mekkah masuk Islam.
Kemudian mereka setelah masuk Islam, bani Umayahlah merupakan golongan yang kuat membela agama Islam untuk memerangi orang-orang Kafir.
            Ditinjau dari rentetan perjuangan Bani Umayah pada teorinya mereka telah berdiri sejak pengangkatan saidina Utsman bin Affan , sebab beliau keturunan Bani Umayah (Utsman bin Affan bin Abd. Ash bin Umayah). Kesempatan yang baik bagi mereka adalah diangkatnya muawiyah menjadi Gubernur di daerah Syam oleh khalifah Umar. Sejak Ustman itulah Bani Umayah meletakkan dasar-dasar menegakkan khilafah Umayah. Ketika Utsman dibunuh, maka penggantinya adalah Saidina Ali bin Abi Thalib (Bani Hasyim) sebagai Khalifah ke-4. Sedang pada waktu itu kedudukan Muawwiyah di Syam telah kuat oleh karena itu dengan mudahnya Saidina Ali bin Abi Thalib dikalahkan oleh muawwiyah sehingga jabatan Khalifah berpindah kepada mawwiyah dan disinilah Daulah Umayah berkuasa sejak tahun 40-132H (92 tahun). Adapun nama-nama pemimpin atau khalifah pada masa dinasti ummayyah dan  dari kalangan (keturunan) Muawwiyah sendiri adalah sebagai berikut:
I    : Muawiyah ibnu Abi Sufyah    (40-60 H/660-680 M)
II   : Yazid ibnu Muawiyah            (60-63 H/680-684  M)
III  : Muawiyah ibnu Yazid            (63-64 H/683-684 M)
IV  : Marwan ibnu Hakam            (64-65 H/684-685 M)
V   : Abdul Malik ibnu Marwan   (65-86 H/685-705 M)
VI  : Walid ibnu Abdul Malik       (86-96 H/705-715 M)
VII : Sulaiman ibnu Abdil Aziz    (96-99 H/715-717 M)
VIII: Umar ibnu Abdil Aziz          (99-101 H/717- 720 M)
IX  : Yazid ibnu Abdul Malik        (101-105 H/720-724 M)
X   : Hisyam ibnu Abdul Malik     (105-125 H/724-743 M)
XI  : Wahid ibnu Yazid                 (125- 127 H/743-744 M)
XII : Yazid ibnu Wahid                 (127 H/744 M)
XIII: Ibrahim ibnu Walid               (127 H/744 M)
XIV: Marwad ibnu Muhammad     (127-132 H/745- 750 M)
            Di antara para khalifah Bani Umayah itu ada salah satu pimpinan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan Khalifah Rasyidin yaitu Umar bin Abdil Aziz.
            Keluarga baru Bani umayah terdiri dari dua cabang ketururnan . Cabang pertama ialah keluarga Harb ibnu Umayah dan cabang yang kedua adalah Abul’ Ash ibnu Umayah. [1]  
II. Sejarah Berdirinya Daulah Bani Umayah
                Daulah Umayah berkuasa selama kurang lebih 90 tahun (41-132 H/661-750 M). Daulah ini didirikan oleh Muawiyah ibnu Abi Sufyan ibnu Harb ibnu Umayyah melalui peristiwa tahkim setelah perang siffin di Daumat al Jandal. Kehadiran daulah Umayyah menggantikan sejarah Islam dengan sistim pemerintahan yang sangat berbeda dengan sistim yang di terapkan oleh Rasulullah SAW dan para khulafaur Rasyiddin, dimana masyarakat banyak yang tidak puas terhadap kepemimpinan dinasti ini. Muawiyah ibnu Abi Sufyan terkenal dengan siasat dan tipu muslihatnya. Ia seorang yang cerdik, cendekia lagi bijaksana, luas ilmu dan siasatnya terutama dalam urusan dunia dan pandai mengatur pekerjaan. Sebagian Umat Islam membaiat Hasan setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib wafat. Hasan menyadari kelemahan dirinya, ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada muawiyah. Tahun inilah yang di sebut ‘amul Jama’ah’   tahun persatuan. Muawiyh menerima kekhalifaan di kufah dengan syarat-syarat yang diajukan oleh Hasan, yakni:
1.      Muawiyah tidak boleh menaruh dendam kepada masyarakat Irak.
2.      Menjamin keamanan dan tidak mempidanakan perbedaan politik mereka sebelumnya.
3.      Muawiyah memberikan pajak tanah negeri Ahwaz tiap tahun kepada Hasan.
4.      Muawiyah membyar uang 2 juta dirham kepada Husain, saudaranya.
5.      Pemberian kepada bani Hasyim haruslah lebih banyak di banding dengan pemberian kepada bani Abd al Syams.
Faktor-Faktor Keberhasilan Muawiyah Mendirikan dinasti Umayah
1.      Akibat dari kemenangan diplomasi di Shiffin
2.      Terbunuhnya khalifah Ali bin Abi Thalib
3.      Dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan dari keluarga bani Umayyah sendiri.
4.      Ditempatkanya para pembantu Muawiyah pada jabatan -jabatan penting.
5.      Muawiyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarawan.[2]
III. Bangkitnya Bani Umayyah
1.     Kesaksian sejarah antara Bani Hasyim Dan Bani Umayyah  
Silsilah keturunan Bani Hasyim dan Umayyah bertemu dengan Bani Umayyah pada satu kakek, yaitu Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Bani Abdu Manaf memiliki kedudukan terhormat di makkah dan menjadi pemimpimpin mereka. Tidak satupun klan suku Quraisy yang menandinginya. Semua klan Quraisy pun mengakui hal itu dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Kepemimpinan Bani Abdu Manaf di makkah dan kepeloporan mereka dimulai sejak masa kakek mereka, Qushay bin Kilab bin Murrah, yang mampu menggeser kedudukan Bani Khuza’ah dalam memimpin Makkah dan mengendalikan segala sesuatunya di sana. Ketika usianya semakin lanjut, ia melimpahkan kekuasaannya kepada putra sulungnya yang bernama Abdud Dar untuk mengurus kota Makkah dan Ka’bah. Sepeninggal Qushay,  seluruh putra-putrinya memenuhi hak saudara tertua mereka demi menghormati wasiat ayahnya. Setelah Abdud Dar wafat dan Abdu Manaf, putra-putri Abdu Manaf bin Qushay bersepakat untuk merebut kekuasaan pengurusan kota Makkah dan Baitul Ka’bah yang dipegang  putra-putri Abdud Dar paman mereka. Perseteruan itu hampir saja menimbulkan konfrontasi terbuka di Makkah antara dua kelompok tersebut. Namun, tokoh-tokoh utama dan kaum cendekiawan pun segera mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan ini. Dan hasil dari pertemuan tersebut adalah pembagian tugas-tugas dalam pelayanan ka’bah di Makkah. Bani Abdu Manaf dipercaya untuk menyediakan air minum dan kosumsi, sedangkan pemeliharaan panji perang dan pengelolaan lembaga permusyawaratan tetap di serahkan kepada Bani Abdud Dar. Masyarakat Makkah pun tercegah dari perang saudara, meskipun masing-masing kelompok masih seperti posisi sebelumnya, sampai akhirnya Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW membawa ajaran Islam. Dari pemaparan tadi dapat kita ketahui bahwa putra-putri Abdu Manaf secara keseluruhan, baik Bani Hasyim, Bani Abdu Syams atau lainnya bersepakat untuk merebut kekuasaan pengelolaan ka’bah dari tangan putra-putri Abdud Dar paman mereka. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai pembagian hasil yang mereka peroleh. Mereka menyerahkan itu kepada Hasyim bin Abdu Manaf saudara mereka lantaran kehormatan dan kekayaannya. Hal ini menegaskan bahwa hubungan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah sebelum Islam merupakan hubungan persaudaraan yang kokoh dan saling melengkapi. Kedatangan Islam menyebabkan sebagian besar Bani Umayyah menentang agama baru ini beserta pembawanya, Muhammad SAW. Kemudian Allah SWT memberikan petunjuk kepada mereka, sehingga mereka menjadi pendukung utamanya dan berpartisipasi dalam berbagai ekspansi dan penaklukkan. Namun, ada pakar sejarah yang berpendapat bahwa perseteruan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah telah terjadi sebelum Islam datang. Al-Maqrizi menulis sebua buku bejudul An-Naza’ wa At-Takhashum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim. Ia mengklaim bahwa perseteruan antara mereka itu telah mengakar dan berlangsung lama.
Hubungan yang di buktikan dengan kronologi sejarah antara Hasyim dan Umayyah bin Abdu Syams, yaitu terjadinya persaingan antara paman dan keponakan itu hingga terjadi munafarah atau sidang di hadapan dukun. Tradisi semacam ini sangat populer dan biasa digunakan masyarkat Arab. Persaingan itu di lakukan secara terhormat dan saling menghargai, bukan berdasarkan kedenkian dan saling memusuhi yang menghalangi mereka untuk saling mendukung dan bersatu padu tatkala menghadapi ancaman dari luar, seperti contoh perang Al-Fujjar.
Bahkan, ada beberapa bukti sejarah yang menunjukkan kuatnya hubungan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Abdul Muthallib bin Hasyim pemimpin Bani Hasyim pada masa itu merupakan sahabat Harb bin Muawiyah pemimpin Bani Umayyah kala itu sebagai mana Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim adalah sahabat dekat Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Kisah keislaman Abu Sufyan ketika Fathu Makkah dan pern Abbas di dalamnya merupakan bukti kongkret atas semua pernyata an tersebut
2. Bani Umayyah di Era Rasulullah
                Dalam pembahasan sebelumnya, saya telah menjelaskan bahwa mayoritas Bani Umayyah sebelum Fathul Makkah  di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb termasuk kelompok yang menentang Rasulullah SAW. Bahkan, mereka menjadi pemimpin kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya dalam setiap pertempuran. Saat Fathul Makkah, mereka pun masuk Islam semua menjalankan agama dengan sebaik-baiknya. Setelah masuk Islam dan mengetahui hakikat Islam, mereka menyadari kesalahan besar mereka karena keterlambat masuk Islam bahwa keterlambatan itu membuat mereka tidak termasuk golongan orang-orang yang paling dahulu masuk Islam. Pengakuan ini tertuang dalam surat Abu Sufyan kepada Muawiyah putranya sesaat setelah diangkat Umar bin Khattab sebagai amir (gubernur jenderal) negeri Syam menggantikan kakaknya, Yazid bin Abu Sufyan. Andaikan mereka sejak awal, tentulah mereka sudah menduduki posisi terdepan dan tamppuk kepemimpinan. Kita dapat mengatakan bahwa Abu Sufyan dan Seluruh Bani Umayyah yang menikmati kedudukan istimewa dan terhormat di makkah sebelum Islam mengancam kedudukan sosial dan ekonomi mereka. Itulah sebabnya mereka melawan Islam dan menghalangi orang masuk Islam. Meski demikian mereka sellu tampil / terjun di berbagai peperanganbersama Rasulullah SAW, sehingga banyak diantara mereka yang gugur di medan peperangan sebagai syahid. Keterlambatan mereka masuk Islam tidak menjadi halangan mereka untuk mengabdikan diri di agama Islam dengan Ikhlas.
Rasulullah SAW memberika keistimewaan kepada Abu Sufyan yang tidak di berikan kepada orang lain, dengan bersabda,” Barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman.”Beliau juga mengangkat Abu Sufyan sebagai wali kota Najran, Beliau juga mengangkat Muawiyah ibn Abu Sufyan sebagai sekertarisnya    
3.      Bani Umayyah Di Era Abu Bakar Ash- Shiddiq
Rasulullah wafat setelah berhasil menyampaikan tugas dan tanggung jawabnya. Abu Bakar Ash- Shiddiq pun di baiat sebagai khalifah. Abu Bakar Ash- Shiddiq Mengambil kebijakan yang sama seperti Rasulullah dalam mempekerjakan Bani Umayyah dan meminta bantuan mereka dalam berbagai tugas penting dan utama. Mereka memenuhi permintaan Abu Bakar Ash shiddiq. Namun, merekaka lebih suka berjihad di jalan Allah SWT dari pada pekerjaan Administrasi. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan bendera komando kepada empat tokoh utama, yaitu Yazid bin Abu Sufyan seorang sahabat senior yang layak menjadi teladan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr bin Ash, dan Syurahbil bin Hasanah. Yazid bin Abu Sufyan pun meninggal karena terkena wabah penyakit di Emmaus (Amwas), di era khalifah Umar bin Khathab Al-Faruq tahun 18 H. Selanjutnya panji itu di serahkan kepada adiknya Muawiyah bin Abu Sufyan yang sengaja dikirim Abu Bakar Ash Shiddiq untuk memperkuat kakaknya (Yazid bin Abu Sufyan) Muawiyah pun berasil mengemban tugas tersebut dan berhasil menaklukan daerah-daerah pesisir negri syam. Sementara itu, Abu Sufyan ayah mareka telah lanjut usia dan sudah tidak mampu berperang. Namun, ia tidak terima jika tidak diikutsertakan dalam perang dan pasukan penaklukan. Ia pun berperan sebagai motivator guna membangkitkan semangat tempur, semangat juang, dan semangan pengorbanan umat Islam.
4.      Bani Umayyah di Era Umar bin Al-Khathab
Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq wafat pada bulan jumadil akhir tahun 13 H, Umar bin Al-khathab di baiat sebagai Khalifah. Ia pun mengambil kebijakan yang sama sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq memperkerjakan Bani Umayyah dan tetap memberikan kepercayaan kepada mereka. Jadi, kelanggengan Bani Umayyah di era Khalifah Umar menunjukkan Kompetensi dan tanggungjawab masing-masing. Yazid Bin Abu Sufyan tetap menjabat sebagai walikota Damaskus. Disini Umar juga memberhentikan seorang sahabat terbaik dan ahli zuhud yang bernama Umar Bin Sa’ad sebagai walikota Homs, yang dalam bahasa Umar Bin Khattab disebut Nasijuwahdah (penenun perstuan).karena menyelewengkan atau penghianatan, melainkan karena menghendaki seorang yang lebih kuat darinya. Disamping itu Umar Bin Khattab juga mengangkat Muawiyah Bin Abu Sufyan sebagai Amir (gubernur/jendral) Syam menggantikan Yazid Bin Abu Sufyan kakanya pada tahun 18 H.
         Beginilah Bani Umayyah terus berjuang dan berdakwah selama masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Kattab Al-Faruq. Mereka adalah pejabat terbaiknya.
5.Bani Umayyah Di Era Usman Bin Affan
Usman Bin Affan menjabat sebagai Khalifah umat islam setelah Umar bin Al-Khattab gugur sebagai syahid pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 23 H. Pengankatannya sesuai dengan metode yang dirumuskan Umar sebelum wafatnya. Dengan demikian, masalah ini masuk dalam lingkaran ijtihad, musyawarah, dan bertukar pikiran untuk mencapai langkah yang paling ideal dalam menduduki jabatan yang paling penting ini. Ia telah memperhatikan semua tokoh yang diketahuinya meskipun ia sedang menderita sakit akhibat luka tusukan oleh Abu Lu’luah si Majusi. Untuk dapat mengungkap kepalsuan propaganda sebagian orang mengenai hubungan Bani Umayyah dengan masalah pemilihan Usman Bun affan dari satu sisi dan eksploitasi mereka terhadap kekhalifahannya guna memperkuat posisi  mereka di pemerintahan di negara islam, sebagai sebuah permulaan atau batu loncatan untuk menduduki posisi kekhalifahan itu sendiri. Dalam pembahasan ini akan kita ketahui lebih jelas bahwa pendapat itu tidak memiliki bukti historis sama sekali dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
 Mengenai sisi pertama yaitu berkaitan dengan hubungan Bani Umayyah sebagai Khalifah, dikatakan bahwa berbagai sumber islam yang dapat dipertanggungjawabkan keotentikannya tidak memberikan suatu informasi pun ikhwal peran yang dimainkan Bani Umayyah dalam pemilihan ini. Sebab masalah ini diserahkan kepada para sahabat senior yakni mereka yang pertama-tama dan dahulu masuk islam. Bahkan hanya 6 sahabat yang dicalonkan Umar Bin Khattab.merekapun bersepakat memilih usman bin Affan para sahabat dan tabi’in pun ikut membai’at dalam musyawarah tersebut. Kemudian pembai’atan terhadap Usman menyeluruh ke berbagai daerah. Dengan demikian asumsi bahwa Bani Umayyah memiliki peran terpenting dalam pemilihan tersebut.
         Adapun sisi kedua yang menyangkut eksploitasi Bani Umayyah terhadap kekhalifahan Usman Bin Affan dan penguasaan mereka pada pemerintahan-pemerintahan utama dan pengaruhnya terhadap pemerintahan maka pernyataan ini perlu dicermati, dikaji, dan di teliti secara intensif guna membuktikan kebenarannya. Sebab masalah ini menjadi poin penting yang dijadikan oleh musuh-musuh Usman untuk melancarkan pemberontakan terhadapnya. Mereka melakukan keonaran-keonaran dn bahkan membunuh Usman secara keji, hingga menorehkan kedudukan mendalam bagi islam dan umat islam atas kejahatan mereka.[3]

  


B.Kebijakan Pemerintahan Daulah Bani Umayyah
          Setelah pusat pemeritahan di pindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, maka muawiyah merubah bentuk pemerintahan dari theo-demokrasi menjadi monarkhi (kerajaan/dinasti). Ia mengankat putranya sebagai putra mahkota, karena pengaruh oleh tradisi kekaisaran Bizantrum yang selama ini di kuasai Muawiyah, sejak di ankat sebagai Gubernur Suriah oleh Umar bin Khatab. Setelah Muawiyah meninggal, keluarga Umayyah mengangkat Yazid ibnu Muawiyah menjadi khalifah menggantikan ayahnya. Sejaik itu sistim pemerintahan bani Umayyah menggunakan sistim turun-temurun sampai pada khalifah Marwan ibnu Muhammad, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Abu al Abbas al Saffah dari bani Abbas pada 750 M. Peristiwa ini menjadi pertanda berakhirnya dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus.
Adapun Kebijakan-kebijakan Bani Umayyah sebagai berikut:
1.      Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama dengan kekuasaan politik.
2.      Pembagian Wilayah yang dilakukan khalifah Muawiyah berkembang menjadi sepuluh Provinsi (Syiriya dan Palestina,Irak dan basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Hajd, Yamamah, Armenia, Hijaz, Karman, India, Egypt, Afrikiyyah(Afrika Utara), Yaman, dan Arab Selatan, Andalus,).
3.       Bidang Administrasi Pemerintah
a.       Diwan al- Rasail, sebagai sekretaris jendral yang berfungsi mengurus surat-surat Negara untuk para Gubernur atau menerima surat-surat dari mereka.
I.                   Sekretariat Negara di pusat penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar
II.                Sekretariat Provinsi menggunakan bahasa Yunani (Greek) dan persia sebagai bahasa pengantar
b.      Diwan al-kharraj, Kementrian ini berfungsi dalam pengambilan pajak dan keuangan.
c.       Diwan al Barid, disebut juga dengan Badan Intelejen Negara yang berfungsi sebagai pemberi informasi rahasia daerah kepada pemerinta pusat.
d.      Diwan al-Khatan, adalah Kementrian Pencatatan, yang berfungsi mencatat setiap peraturan Kalifah.
e.       Al- Imarah ala al- Buldan, Muawiyah membagi daerah Malukah Islamiyah kapeda lima wilayah besar yaitu:
I.                   Hijaz, Yaman dan Nejid (pendalaman daerah jazirah Arabia).
II.                Irak, Arab (Negeri-negeri Babilon Asyiria Lama)
III.             Mesir dan Sudan
IV.             Armenia, Asia Kecil
V.                Afrika Utara, Andalusia, dll.
f.       Politik Arabisasi, masa pemerintahan Bani Umayyah, sejak Khalifah Abd al- Malik ibn Marwan berkembang istilah Arabisasi, yakni usaha-usaha pengaraban oleh Umayyah di wilayah-wilayah yang dikuasai Islam.
g.      Shurtah, (kepolisian), organisasi Kepolisian pada mulanya menjadi bagian dari organisasi Kehakiman yang bertugas melaksanakan perintah qadi/ hakim dan keputusan pengadilan.
h.      Nidham al- Tajnidi Ijbari,  militer Bani Umayyah, organisasi militer pada masa Muawiyah ibnAbi Sofyan, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan  khalifah Umar bin Khattab. Perbedaanya bila masa Umar, tentara Islam adalah mereka yang secara sukarela menjadi tentara, sedangkan masa pemerintahan Muawiyah dikeluarkan Undang-undang wajib militer yang disebut Nidhom al-Tajuidi Ijbari, baik dengan paksa atau setengah paksa bai orng-orng Arab atau unsur Arab.
4.      Perluasan Wilayah Islam Kecil
5.      Perluasan Ke Timur
6.      Perluasan Wilayah Islam ke Afrika Utara
7.      Perluasan Islam ke Barat
8.      Pemberlakuan Sistim Sosial
9.      Pembinaan Sistim Fiskal (Keuangan). Dinasti Umayyah menmbah sumber devisa seperti al- Dharaib, yaitu kewajiban pajak-pajak istimewa. Pengeluaran pada masa Daulah Bani Umayyah seperti awal Islam, yaitu untuk:
a.       Pembayaran gaji pegawai dan tentara, serta biaya ta usaha Negara.
b.      Pembangunan pertanian, termasuk irigasi dan penggalian terusan-terusan.
c.       Pembayaran ongkos bagi tawanan perang.
d.      Pembiayaan perlengkapan perang
e.       Pemberian hadiah-hadiah kepada para pujangga
10.  Pembinaan Sistim Peradilan. Pada masa daulah Bani Umayyah pengadilan dipisahkan dengan kekuasaan politik. Pada masa ini Kehakiman mempunyai dua ciri khasnya yaitu:
a.        Bahwa seorang Qadi /Hakim memutuskan perkara dengan ijtihad masing-masing, karena masa itu belum ada Madzab Empat atau madzab lainya.
b.      Kehakiman belum terpengaruh dengan politik, karena para Qadi bebas menentukan hukum.
11.  Pembinaan Peradapan Keilmuan
12.  Masa peralihan Sistim Karakter Pemerintahan. Masa peralihan karakter pemerintahan terjadi pada khalifah Umar ibn Abd al- Aziz. Umar menikahi Fatimah, putri Abd al-Malik, khalifah Umayyah yang sekaligus sebagai pamanya. Masa peralihan dari karakter yan kejam, menekan rakyat dan sebagainya kepada masa yang damai, lemah lembut dan makmur.[4]


C. Sistem Sosial Budaya
1.      Dapat dilihat seorang penduduk Damaskus berpakaian besar dan bersepatu lancip, sedangkan seorang baduwi berpakaian longgar dan mengenakan sorban yang diikat
2.      Terkadang dapat dilihat orang Ifranyi atau Prancis yang berpakaian seperti orang Eropa
3.      Dapat dilihat seorang penduduk kaya yang menunggang  kuda berpakaian sutra putih yang bernama “Aba” yang bersenjatakan pedang dan tombak
4.      Para penjual limun dan juadah-juadah berteriak memasarkan jualannya menyaingi suara onta-onta yang membawa muatan hasil panen
5.      Setiap rumah terdapat gerbang pintu masuk menuju halaman rumah 
6.      Didepan halaman rumah terdapat air mancur dan sebatang pohon jeruk nipis didekatnya
7.      Dinasti umayyah mengadakan suatu sistem pembagian air dalam kota Damaskus.
 D. Prestasi Peradaban Islam
a.       Dalam bidang politik
Pembentukan dewan sijil, yaitu sebuah lembaga yang mencatat dan mendaftarkan setiap kelahiran di dalam lingkungan arab
b.      Dalam bidang seni
Dalam kalangan muslim arab, bangunan masjid awalnya meniru seni bangunan Greek dan Bizantium, seni ukir dan seni hias lambat laun dikenal dengan Arabesque yaitu seni Arab. Hal ini dapat disaksikan pada jami Al-Umawi di Damaskus yang dibangun oleh kholifah Walid Ibn Abdul Malik (705=715).[5]
c.       Dalam Bidang Keilmuan
1.      Ilmu Fiqih
2.      Ilmu hadis
3.      Ilmu nahwu
4.      Ilmu Qiro’at
5.      Ilmu tafsir
6.      Ilmu Jughrafi dan Tarikh.[6]



  E. Sebab sebab Kemunduran dan kehancuran dinasti umayyah
a.     Sebab-sebab umum :
1.      Sistem demokrasi atau  musyawaroh islam diganti dengan sistem monarkiheridetis (kerajaan turun-temurun)
2.      Penghianatan permusyawaratan di Daumatul jadal pada masa kekuasaan bani umayyah yang dilakukan oleh para pengikut Ali dan khawarij, pemberontakan ini banyak menguras kekuatan pemerintah    
3.      Mengingkari perjanjian madain ( antara Muawiyah dangan Hasan bin Ali)
4.      Pertentangan etnis antara suku ArabiaUtara (Bani Qays) dangan Arabia Selatan (Bani Kalb)
b.     Sebab-sebab khusus
1.      Yazid bin Abdul Malik memecat penjabat-penjabat yang diangkat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis diganti dengan orang-orang se-suku Yazid bin Abdul Malik meskipun orang itu tidak ahli
2.      Sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak kholifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan 
3.      Banyak yang kecewa karena sedikitnya perhatian pemerintah terhadap perkenbangan agama
4.      Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al Abbas ibn Abdul Mutholib. Gerakan ini mendapatkan dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan syiah serta kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintah Bani Umayyah.[7]
    F.  Unity of Sciences Bani Umayyah dengan Era Modern
   1. Sifat salah satu pemimpin bani Umayyah yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan rakus = pemimpin-pemimpin di indonesia yang suka korupsi
2.      Diwan al Barid, disebut juga dengan Badan Intelejen Negara = Kalo di indonesi sama dengan Intel, Kopasus.
3.      Diwan al-kharraj, Kementrian ini berfungsi dalam pengambilan pajak dan keuangan = Seri PBB pendaftaran dan pendataan Objek pajak bumi dan bangunan
4.      Diwan al- Rasail, sebagai sekretaris jendral yang berfungsi mengurus surat-surat Negara untuk para Gubernur atau menerima surat-surat dari mereka = SA
5.      Shurtah, (kepolisian), organisasi Kepolisian pada mulanya menjadi bagian dari organisasi Kehakiman yang bertugas melaksanakan perintah qadi/ hakim dan keputusan pengadilan = Samahalnya Kepolisihan Resor Kota Besar dan  Dewan Mahkamah Agung, peradilan agama, peradilan militer.



























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nama Daulah Umayah berasal dari nama Umayah ibnu abdi Syams ibnu Abdi manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin- pemimpin Quraisy zaman jahiliyah. khalifah pada masa dinasti ummayyah dan  dari kalangan (keturunan) Muawwiyah sendiri adalah sebagai berikut:
Bangkitnya Bani Umayyah
1.      Kesaksian sejarah antara Bani Hasyim Dan Bani Umayyah
2.      Bani Umayyah di Era Rasulullah
3.      Bani Umayyah Di Era Abu Bakar Ash- Shiddiq
4.      Bani Umayyah di Era Umar bin Al-Khathab
5.      Bani Umayyah Di Era Usman Bin Affan
Kebijakan-kebijakan Bani Umayyah
Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama dengan kekuasaan politik, Pembagian Wilayah yang dilakukan khalifah Muawiyah, Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama dengan kekuasaan politik,Pembagian Wilayah yang dilakukan khalifah Muawiyah, Perluasan Wilayah Islam Kecil, Perluasan Ke Timur, Perluasan Wilayah Islam ke Afrika Utara, Perluasan Islam ke Barat, Pemberlakuan Sistim Sosial, Pembinaan Sistim Fiskal ,Pembinaan Sistim Peradilan.
Sistem Sosial Budaya
Dapat dilihat seorang penduduk Damaskus berpakaian besar dan bersepatu lancip, sedangkan seorang baduwi berpakaian longgar dan mengenakan sorban yang diikat
Terkadang dapat dilihat orang Ifranyi atau Prancis yang berpakaian seperti orang Eropa
Dapat dilihat seorang penduduk kaya yang menunggang  kuda berpakaian sutra putih yang bernama “Aba” yang bersenjatakan pedang dan tombak

Sebab-Sebab kemunduran Bani Umayyah
1.      Sistem demokrasi atau  musyawaroh islam diganti dengan sistem monarkiheridetis (kerajaan turun-temurun)
2.      Penghianatan permusyawaratan di Daumatul jadal pada masa kekuasaan bani umayyah yang dilakukan oleh para pengikut Ali dan khawarij, pemberontakan ini banyak menguras kekuatan pemerintah    
3.      Yazid bin Abdul Malik memecat penjabat-penjabat yang diangkat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis diganti dengan orang-orang se-suku Yazid bin Abdul Malik meskipun orang itu tidak ahli
4.      Sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak kholifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan
B.Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami masih banyak kesalahan dan kekurangan, arenaa kami masih dalam tahap proses pembelajaran. Dengan ini kami menerima saran dan kritik dari pembaca untuk kelompok kami. Kami mohon maaf apabila makalah kami banyak penulisan yang kurang tepat dan refrensi kami ada yang kurang tepat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya dan juga bisa menambah wawasan bagi kita semua. Amin ya Rabbal alamin.


























DAFTAR PUSTAKA
Ismawati. Sejarah perdaban Islam,CV. Semarang. Karya abadi jaya. 2015
Noor Yusliani. Sejarah Timur Tengah (Asia barat Daya).Yogyakarta. Penerbit Ombak. 2014
Muhammad Abdul Latif Abdussyafi. Bangkit dan runtuhnya Kihilafah Bani Umayyah. Jakarta Timur Pustaka Al-kausar. 2014
Aizid Rizem.sejarah peradaban islam terlengkap. Yogyakarta. Diva press.2015


[1] Yusliani Noor, Sejarah Timur Tengah (Asia barat Daya) , penerbit Ombak, Yogyakarta, 2014 hlm 127-129
[2] Ismawati, Sejarah perdaban Islam,CV. Karya abadi jaya, Semarang, 2015, hlm 89-92

[3] Abdussyafi Muhammad Abdul Latif, Bangkit dan runtuhnya Kihilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-kausar, Jakarta Timur, 2014, hlm 12- 33
[4] Ibib, hlm 93-109
[5] Rizem Aizid,sejarah peradaban islam terlengkap, Diva press,Yogyakarta.2015.hal 259-261.
[6]Ibib Hlm.133-138
[7] Ibid, hlm,135-145

Komentar

Postingan populer dari blog ini