MAKALAH
OBJEK KAJIAN ILMU DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
ISLAM
Mata kuliah : Falsafah Kesatuan Ilmu Pengetahuan
Dosen penganpu : Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag
Disusun oleh :
Maria Al Suryani (1601036164)
Syavinatul afiva (1601936165)
Nely Khasanatun Nabila (1601036163)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITS ISLAM NEGERI (UIN) WALISONGO
SEMARANG
2017
BAB1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
C Munculnya filsafat ilmu telah mengantarkan manusia
pada perkembangan ilmu pengetahuan yang amat luas dan mendalam, salah satunya
adalah pengetahuan tentang sains atau ilmiah. Pemahaman kita tentang proses
realitas atau alam semesta, melalui sebuah pemahaman pikiran manusia telah
memberikan beberapa kajian tentang ilmu filsafat yang salah satunya merupakan
pemahaman ontologi (teori wujud) secara umum dan ontologi perspektif Islam.
Dalam
pembahasaan ini sangat menarik bagaimana sebuah kajian ilmu Islam dihadapkan
pada kajian ilmu barat. Dalam kajian ini juga memberikan gambaran bagi kita
tentang konsep Islam itu sendiri. Dalam konsep Islam memberikan gambaran pada
kita sebuah pandangan pada kajian Al-Quran dan Hadist.
ara berfikir secara filsafat adalah berfki
2. RUMUSAN MASALAH
a.
Apa saja bidang-bidang kajian ilmu naqliyah Ibnu Khaldun?
b.
Apa saja bidang-bidang kajian ilmu aqliyah Ibnu Khaldun?
c.
Bagaimana klasifikasi sains oleh para ilmuwan muslim
seperti Ibnu Rusyd
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bidang- bidang kajian ilmu naqliyah Ibnu Khaldun
Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam
hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang
utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at yang
diambil dari al-Qur’an dan Hadits.
Ibn
Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi
peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu :
1. Al-Quran dan Hadits
2. Ulum al-Quran
3. Ulum Hadits
4. Ushul Fiqh
5. Fiqh
6. Ilm al-Kalam
7. Ilm al-Tasawuf
8. Ilm al-Ta’bir Ru’ya[4]
Menurutnya,Al-quran adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada
anak. Al-Quran mengajarkan kepada anak tentang syariat Islam yang dipegang
teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam.
Ilmu-ilmu naqli hanya ditujukan untuk dipelajari pemeluk Islam. Walaupun
dalam setiap agama sebelumnya ilmu-ilmu tersebut telah ada, akan tetapi berbeda
dengan yang tedapat dalam Islam. Dalam Islam, eksistensi ilmu berfungsi
menasakhkan ilmu-ilmu dari setiap agama yang lalu dan mengembangkan kebudayaan
manusia secara dinamis.
B. Bidang-bidang kajian ilmu aqliyah Ibnu Khaldun
Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui
kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di
dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia.
Ilmu aqli di bagi menjadi empat kelompok, yaitu :
1. Ilmu Logika (Mantiq)
2. Ilmu Fisika ; termasuk di dalamnya
ilmu kedokteran dan ilmu Pertanian
3. Ilmu Metafisika (Il-al Ilahiyat)
4. Ilmu Matematika termasuk di dalamnya
ilmu Geografi, Aritmatka dan al-Jabar, ilmu Musik, ilmu astronomi dan ilmu
Nujum.
Walaupun Ibnu Khaldun banyak
membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia tidak
memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasi ilmunya.
Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik
menjadi empat macam, yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan
dan prioritas mempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:
1. Ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh dan ilmu
kalam.
2. Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika), dan ilmu
Ketuhanan (metafisika)
3. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang terdiri
dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari
agama.
4. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.
C. Klasifikasi sains oleh para ilmuwan muslim
seperti Ibnu Rusyd
1. Klasifikasi sains menurut Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd adalah seorang filosof cemerlang,
ahli ilmu al-Qur’an, serta ahli ilmu kealaman seperti fisika, kedokteran,
biologi, dan astronomi. Ia dikenal di Barat dengan nama Averroes, tapi namanya
yang lengkap adalah Abu al-walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd.
Ibnu Rusyd lahir di Kordoba, Spanyol pada tahun 520 H/1126 M dan meninggal di
Maroko pada tahun 595 H/1190 M. Ibnu Rusyd berasal dari sebuah keluarga
terpelajar yang berkebangsaan spanyol yang terkemuka sejak beberapa generasi
diatasnya. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu fiqih. Kakeknya, seorang
konsultan hukum serta menjadi qadli dan imam masjid besar Kordoba. Sedang
ayahnya juga seorang qadli. Al-Hafidz Abu Muhammad Ibnu Rizk merupakan salah seorang gurunya, begitu pula
Ibnu Zuhr. Bahkan boleh dikata bahwa buah pikiran dan kejeniusan gurunya ini
mengalir cukup deras ke dalam tubuh Ibnu Rusyd.[1]
Ibnu Rusyd dikenal pula sebagai seorang
perintis ilmu kedokteran umum, serta perintis mengenai ilmu jaringan tubuh
(histology). Ia pun berjasa dalam bidang penelitian pembuluh-pembuluh darah,
serta penyakit cacar. Buku karangannya “Al-Kulliyat fi ath-Thalib” yang
diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Bonacosa-sorang yahudi dari Padua
sebagai “colliget” merupakan ikhtisar kedokteran yang terlengkap untuk zamannya,
dan diterbitkan di Padua pada tahun 1255 M. Salinannya dalam bahasa inggris
dikenal dengan nama “General Rules of Medicine”, sempat dicetak berulang kali
di Eropa.
Ibnu Rusyd dikenal pula sebagai pengkritik
Ibnu Sina yang paling bersemangat, meskipun ia tetap respek terhadap
karya-karya medis pendhulunya tersebut. Seperti yang terlihat dalam komentarnya
berupa syair medis yang berjudul “Al-Urjuza fi ath-Thibb”. Ia juga amat
tertarik dengan gagasan-gagasan al-Farabi tentang logika, dan malahan kerap
kali memberinya inspirasi.
Selain masyhur sebagai seorang dokter, ia juga
dikenal khalayak sebagai seorang ahli matematika, hukum Islam, dan juga seorang
filosof yang brilian. Sejarah mencatat pembelaan cemerlang yang dilakukannya
dalam “menangkis” serangan al-Ghazaly yang menuding para filosof telah sesat,
dan karenanya menjadi kafir. “Pertarungan seru” dapat kita baca pada bukunya
yang berjudul “Tahafut al-Tahafut”. Karyanya yang berjudul “Bidayatul Mujtahid”
merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa ia juga seorang ahli dalam bidang
yurisprudensi Islam. Ia juga seorang polemis yang tajam penanya dan kuat
rasionya. Karya-karyanya dalam bahasa arab kira-kira ada 78 buah, yang masih
tetap tersimpan dan terawat baik di perpustakaan Escurial di Madrid, Spanyol.
Dua puluh buah diantaranya adalah tentang kedokteran dan empat buah mengenai
astronomi.[2]
2. Klasifikasi sains Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun sebenarnya lebih dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial
dan politik Islam. Konstribusi Ibnu Khaldun terletak pada filsafat sejarah dan
sosiologi. Ia banyak berbicara dalam kitabnya yang dikenal sebagai Muqaddimah.
Buku ini didasarkan pada pendekatan yang unik Ibnu Khaldun dan asli tentang
filsafat sejarah dan sosiologi. Perhatian utama dari karya monumental ini
adalah untuk mengidentifikasi fakta-fakta psikologis, ekonmi, lingkungan dan
sosial yang berkonstribusi pada kemajuan peradaban manusia dan arus sejarah.
Beberapa ahli bahkan menyebut Ibnu Khaldun sebagai bapak ekonomi yang
sebenarnya atau dengan sebutan bapak ilmu sosial modern. Namun dalam kitab
Muqaddimah Ibnu Khaldun juga membahas tentang sains atau ilmu pengetahuan alam.
Ilmu ini mempelajari benda-benda langit substansi-substansi elementair seperti
binatang, manusia, tumbuh-tumbuhan, mineral dan segala sesuatu yang terlahir
didalamnya.
Beriku merupakan cabang-cabang ilmu alam dalam
kitab Muqaddimah Ibnun Khaldun:[3]
a. Ilmu Kedokteran
Keahlian kedokteran memfokuskan pembahasan
pada tubuh manusia dari segi sehat ataupun sakitnya, sehingga orang yang mempunyai
ketrampilan medis (dokter) dapat berupaya menjaga kesehatan dan menyembuhkan
penyakit dengan obat-obatan dan asupan gizi setelah mendiagnosa jenis penyakit
yang menyerang salah satu organ dan anggota tubuh, faktor-faktor yang
menyebabkan timbulnya penyakit tersebut, dan jenis-jenis obat yang sesuai
dengan penyakitnya.
Pengobatan ini dilakukan dengan membaca
petunjuk tentang efektifitas obat dan tempramennya, dan penyakit itu sendiri
melalui tanda-tanda yang memperlihatkan kematangan penyakit tersebut dan
penerimaannya terhadap obat yang diberikan dan penolakannya. Tanda-tanda
tersebut dapat dibaca pada diri si pasien, tabi’at, residu atau kotoran, dan
denyut nadi. Dalam pengobatan ini, dokter mengikuti energi alam mempengaruhi
kondisi kesehatan manusia maupun penyakit yang dideritanya.
Dokter dapat menangani pengobatan tersebut dan
menentukannya berdasarkan indikasi-indikasi yang ditunjukan sifat materi, musim
dan usia. Ilmu yang menangani persoalan-persoalan ini dalah ilmu kedokteran.
Terkadang mereka merumuskan cara menyusun
pembahasan tersendiri tentang beberapa organ tubuh manusia dan menjadikannya
disiplin ilmu yang berdiri sendiri seperti mata dengan berbagai penyakitnya.
Disamping itu mereka juga memasukan pembahasan tentang funsgsi-fungsi organ
tubuh dalam cabang ilmu ini. Maksudnya adalah manfaat yang karenanya
organ-organ tersebut diciptakan. Meskipun pada dasarnya hal-hal semacam itu
tkidak termasuk bagian dari dirinya.[4]
b. Ilmu Pertanian
Ilmu pertanian membahas tentang tumbuh-tumbuhan
dari segi pertumbuhan dan perkembangannya, dan ketetapan musim, serta upayanya
untuk memperoleh hasil pertanian yang baik dan memuaskan.
Para ulama salaf mempunyai banyak perhatian
dalam masalah pertanian ini. Penelitian yang mereka lakukan sifatnya mencakup
semua jenis tumbuhan, mulai dari pembibitan, penanaman, dan perawatannya.[5]
c. Ilmu Kimia
Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari materi
yang dapat dibentuk menjadi emas ataupun perak dan menjelaskan tentang proses
terbentuknya. Untuk merealisasikan hal itu, maka para ahli kimia berupaya
mengetahui karakter segala eksistensi dan energi yang terkandung didalamnya dan
mengamatinya secara mendetail, barangkali mereka menemukan materi yang layak
untuk tujuan tersebut. Pencarian mereka bahkan ke tubuh-tubuh binatang seperti
tulang, bulu, telur, dan lainnya, disamping bahan-bahan mineral.
Kemudian menjelaskan proses pengajaran ysng
dapat mengubah materi tersebut dari energi potensial menjadi energi materi,
seperti menguraikan atau melarutkan materi yang mencair melalui klasifikasi
(pengapuran), pulverisasi benda-benda keras dengan bantuan alat-alat penumbuk dan benda-benda keras sejenisnya.[6]
3. Klasifikasi Sains Jabir Bin Hayyan
Jabir Ibn Hayyan merupakan salah seorang yang
dianggap paling pantas sebagai wakil utama alkemi (ahli kimia) Arab pada
masa-masa awal perkembangannya. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Jabir bin
Hayyan al-kufi al-sufi. Sumber lain menyebutkan sebagai Abu Musa dan bukan Abu
Abdullah, yang menurut Ibnu Nadim, pernah dinyatakan oleh Zakaria ar-Razi, ia
lahir pada tahun 721 M, dan meninggal dunia pada tahun 815 M. Ayahnya yang
bernama Hayyan, adalah seorang ahli obat-obatan (apoteker) dari Kufah yang
kemudian pindah ke Toos. Nama ayahnya sering pula dihubungkan dengan intrik-intrik
politik yang terjadi pada abad ke-8 M, yang pada akhirnya menyebabkan dinasti
Umayyah terguling. Dan ayah Ibnu Hayyan ikut terbunuh dalam gerakan tersebut.
Ia tidak hanya menulis tentang kimia, tetapi
juga tenatng hampir semua cabang ilmu yang mulai berkembang pesat pada masa
hidupnya, seperti logika, matematika, kedokteran, fisika dan lain-lain. Karya
tulisnya yang berjumlah lebih dari 80 buah buku atau risalah diterjemahkan
orang ke dalam bahasa Latin. Namun karya-karyanya di bidang kimia (alkemi) yang
membuat namanya menjulang diseantero dunia.
Kumpulan tulisan Ibnu Hayyan tersebut terbagi
dalam beberapa kumpulan yang sangat penting, yaitu:
a) Buku-buku yang berisi esei-esei, yang
sistematikanya tampak agak kacau tentang praktek alkemi dengan beberapa acuan
yang menunjuk pada alkemi kuno (Zosimus, Demoritus, Hermes, Agathodemon).
b) Buku-buku yang berupa sebuah eksposisi
sistematik tentang pengajaran alkemi oleh Jabir Ibnu Hayyan.
c) “Kutub Al-Mawazin” (“Books of the Balances”,
kitab mengenai kesetimbangan-kesetimbangan), sebuah eksposisi mengenai
landasan-landasan filosofi alkemi dan ilmu-ilmu gaib.
d) Buku-buku yang terdiri dari naskah-naskah yang
menyelidiki secara lebih menyeluruh dan lengkap masalah-masalah tertentu dari
kitab “Kutub al-Mawazin”.
Penulisan literatur oleh Ibnu Hayyan yang
demikian banyaknya, yang terdiri dari hampir semua ilmu yang ada pada waktu
itu, hingga pada akhir abad ke-7 M. Tidak tertandingi. Fakta-fakta yang ada
menunjukkan bahwa kumpulan tulisan tersebut dikompilasi pada akhir abad ke-9 M.
Dan pada awal abad ke-10 M. Salah satu
bagian dari tulisan Jabir tersebut menampilkan masalah-masalah yang
bersangkutan erat dengan sejarah sains dalam Isalm, kedokteran, alkemi (ini
yang biasanya mendapat tempat pertama), astrologi, magic, dan lain sebagainya.
Karya alkemis Islam yang berhasil
mengungkapkan pengetahuan tentang literatur zaman dahulu atau pengetahuan yang
berciri ensikllopedik demikian banyak, adlah karangan-karangan Jabir.
Terminologi ilmiah yang dipergunakan Jabir adalah tanpa pengecualian
sebagaimana yang diperkenalkan oleh Hunain bin Ishak. Dan ini kembali
menunjukkan bahwa kumpulan tulisan semacam itu belum pernah disusun sejak
sebelum akhir abad ke-9 M.[7]
Pada abad ke-8 M, yakni pada masa hidup Jabir
Ibnu Hayyan, perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kimia, praktis belum
terlihat. Dari perjalanan sejarah, kita hanya dapat mencatat adanya
pseudo-sciences, Astrologi, alkemi, dan lainnya. Bahkan alkemi pada saat itu
masih dalam pengertiannya yang amat sederhana dan terbatas, yakni berupa seni
menempa logam-logam dasar menjadi logam yang lebih berharga. Alkemi inilah yang
pada umumnya, dianggap sebagai fase awal perkembangan ilmu kimia pada abad-abad
pertengahan, hingga mencapai puncaknya dimasa sekarang ini.
Dengan demikian alkemi merupakan embrio dari
ilmu kimia yang kini telah bercabang banyak. Dan mesir lah yang menjadi sumber
utamanya kendatipun tidak dapat dipungkiri adanya andil para filusuf yunani
kuno dalam hal ini. Denagn catatan bahwa saham mereka hanya terbatas pada
pemikiran-pemikiran yang bersifat spekulatif kontemplatif tanpa disertai
bukti-bukti eksperimen baru pada abad pertengahan (600-1500 M) kemajuan ilmu
kimia mulai menampakan titik terang. Sebab perubahan-perubahan yang terjadi
dalam prosesnya telah mulai dipikirkan secara lebih rasional, meskipun kadang
juga dipengaruhi semacam kepercayaan-kepercayaan mistis. [8]
Di samping keahliannya dalam bidang kimia,
penguasaannya terhadap bahasa yunani kuno menunjang kegiatannya dalam menulis komentar-komentar
terhadap buku-buku karya ilmuwan yunani. Ia banyak melakukan
terjemahan-terjemahan kedalam bahasa arab, baik dalam disiplin astronomi, ilmu
ukur, logika, dan lain sebagainya. Tapi seperti telah disebutkan diatas, nama
Jabir Ibnu Hayyan lebh tenar sebagai ahli kimia, sehingga tidak terlalu
mengherankan bila ia dijuluki bapak kimia Islam pertama. Demikianlah, kaum
intelektual selanjutnya mengakui secara jujur bahwa dialah (mereka menyebutnya
dengan nama latin, Geber) ilmuwan pertama yang menggunakan metode-metode ilmiah
dalam aktifitasnya dalam bidang alkemi yang kemudian diambil alih dan
dikembangkan menjadi ilmu kimia seperti yang kita kenal sekarang ini namanya
terukir pula sebagai orang pertama yang mendirikan sebuah bengkel atau (laboratorium)
dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengestraksi
zat-zat kimiawi dari mineral-mineral tersebut serta mengklasifikasikannya. Di
bengkel itulah ia melakukan penyelidikan-penyelidikan dan percobaan-percobaan
dengan ketekunan yang luar biasa.
Buku kimia yang dikarang oleh Jabir telah
pernah diterjemahkan kedalam bahasa latin, yang kemudian disalin ke bahasa
inggris oleh Robert Chrester pada tahun 1144 M. Dengan judul “Book of the
Composition of Alchemy”. Kemudian pada tahun 1490 M. Diterbitkan oleh E.Sieber
di Roma, sedang terjemahannya dalam bahasa latin dengan judul “Gebri Arabis
Chimia sive Traditio Summae Perfectionis et Investigatio Magisterii” baru
diterbitkan pada tahun 1668 M. Pada tahun 1678 M, Richard Russel menerbitkan daftar
karya-karya Jabir dibawah judul “The Works of Geber”. Pada tahun yang sama
R.Russel menerjemahkan pula karya Jabir yang lain dalam bahasa latin dengan
judul “Sun of Perfection”. Karya-karya tersebut kemudian diterbitkan lagi pada
tahun 1928 M. Dengan judul “Great Arab Alchemist From Seville”, disertai kata
pengantar dari E.J.Holmyard.[9]
[3] Muhammad Ibnu Khaldun,
Muqaddimah Ibnu Khaldun, terj.Masturi Irham Lc, Malik Supar, Abidun Zuhri
(Jakarta:PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2001).hlm 913
Komentar
Posting Komentar