BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perjuangan Nabi
Muhammad untuk menyiarkan agama islam tidaklah mudah, Banyak cobaan dan
rintangan yang dihadapi saat melaksanakan perinta Allah SWT, namun Nabi
Muhammad selalu sabar dalam menghadapi cobaan tersebut dengan lapang dada,
Salah satu contoh cobaan yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah
banyaknya terjadi peperangan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Dalam
berbagai Riwayat diceritakan bahwa umat muslim banyak melakukan peperangan
dengan kaum Musyrikin. Hal ini terjadi karena kaum musyrikin menentang
dakwak-dakwah dari Nabi Muhammad SAW.
Kaum Musyrikin
menolak sebuah perubahan dan kebangkitan sebuah risalah yang dibawa Rasulullah
SAW. Beliau sangat mengerti sifat bangsa Quraisy yang sangat keras
mempertahankan keyakinan mereka, Beliau mengetahui cepat atapun lambat mereka
akan menghentikan dakwah-dakwah agama islam, beliau mengetahui bahwa kaum
Quraisy tidak akan membiarkan Makkah menjadi pusat penyiaran islam, mereka
tidak akan menyerah begitu saja tanpa melewati pertumpahan darah. Jadi periode
Makkah dilalui tanpa memberikan perlawanan dalam bentuk fisik. Konfrontasi
senjata baru dimulai pada periode Madinah setelah diizinkan oleh Allah untuk
berperang dan kaum muslimin sudah memiliki kekuatan untuk berperang.
B. Rumusan Masalah
1.Bagaimana Sejarah dari perang
Badar, perang Uhud dan peranghandak?
2.Bagaimana Strategi dari perang
badar perang Uhud dan perang khandak pada zaman Rasulullah?
3.Apa Hikmah dibalik dari Perang Badar, Perang Uhud dan Perang
Khandak itu?
BAB
II
PEMBAHASAN
A . Perang Sejarah perang
badar
Surat Al- Anfal merupakan pejelasan
dari Allah tentang peperangan Badr, yang berbeda jauh dengan
penjelasan-[enjelasan lain yang membicarakan raja dan pemimpin setelah
kemenangan.
Pertama-tama Allah hendal
mengalihkan pandangan orang0-orang yang Muslim ke ahklak mereka yang kurang
atau berlebih-lebihan pada masa lampa, agar mereka berusaha menyempurnakannya
dan mensucikan diri.Kemenangan ini menjadi nyata karena dukungan dan pertolongan
Allah dari balik ghoib bagi orang-orang Muslim. Allah perlu menyebutkan hal
ini, agar mereka tidak terkecoh oleh kehebatan dan keberanian diri sendiri,
sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi mereka justru
tawakal kepada Allah, taat kepada-Nya dan kepadaRosul-Nya. Kemudian Allah
menejelasakan tujuan yang mulia dari peperangan yang menegangkan dan banyak
memeakan korban ini, menunjukkan beberapa sifat dan ahklak kepada mereka yng
harus diperhatikan saat perang dan saat mendapat kemenangan. Kemudian Allah
berfirman kepada orang-orang Musyrik,Yahudi,dan para tawana perang ,
menyampaikan peringatan yang nyata dan membimbing mereka agar menerima
kebenaran.
Setelah itu Allah berfirman kepada
kaum Muslim tentang masalah harta rampasan perang dan meletakkan dasar-dasar
masalahitu. Kemudian Allah menjelaskan dan menetapkan aturan-aturan main saat
perang dan damai, karena dakwah islam saat itu sudah memasuki tahapan ini, agar
perang yang dilakukan orang-orang Muslim berbeda dengan perang yang dilakukan
orang-orang jahiliyyah . Mereka unggul karena ahklak dan nilai-nilai yang luhur
serta menegakkan kepada dunia bahwa Islam bukan sekedar teori, tetapi Islam
membekali para pemeluknya secara praktis, berlandaskan kepada dasar-dasar dan
prinsip-prinsip yang disertainya.Kemudian Allah menetapkan beberapa butir
undang-undang daulah islam, dengan membuat perbedaan antara orang-orang Muslim
yang menetapkan di wilayah Islam dan mereka yang menetap di wilayah luar Islam.
Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat
Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau
17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang
bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang.
Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan
barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.
Sebelum pertempuran ini, kaum
Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik
bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik
bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian,
Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara
kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam
usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang
dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih
besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi
pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan
Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain
ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.[1]
Jalannya Peperangan
Pada bulan Ramadhan tahun ke-2
Hijrah, terjadilah perang Badar Kubra. Sebuah pertempuran sengit yang menjadi
penentu nasib islam dan dakwahnya, serta nasib kemanusiaan secara maknawi.
Setiap penakhlukan, pembebasan, dan kemenangan yang terjadi, juga setiap
imperium dan pemerintahan yang tegak, berhutang pada penakhlukan nyata pada
medan pertempuran perang Badar. Oleh karena itulah Allah menyebutnya sebagai
Yaumul Furqan ( hari pembeda).
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“ Jika kamu beriman kepadan Allah dan kepada apa
yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) pada hari furqan, yaitu di hari
bertemunya dua pasukan.” ( QS. Al-Anfal 41).
Diantara kisah tentang ini adalah bahwa rasulullah
SAW. Telah mendengar berita tentang Abu Sufyan bin Harb. Ia sedang dalam
perjalanan pulang dari Negeri Syam dengan rombongan dagang yang besar dari kaum
Quraisy. Pada rombongan dagang tersebut terdapat harta-harta dan barang-barang
perniagaan mereka.
Kafilah dagang itu sendiri membawa harta kekayaan
penduduk makkah, yang jumlahnya sangat melimpah, yaitu sebanyak 1000 unta yang
membawa harta benda milik mereka, yang nilainya tidak kurang dari 5000 dinar
emas. Sementara yang mengawalnya tidak lebih dari 40 orang. Ini merupakan
kesempatan emas bagi psukan madinah untu melancarkan pukulan yang telak
terhadap kaum musyrik,pukulan dalam bidan politik, ekonomi, dan militer, jika
mereka sampai kehilangan kekayaan yang jumlahnya tiada terkira ini.
Ketika Rasulullah SAW. Mendengar bahwa Abu sufyan
sedang dalamn perjalanan pulang dari negeri syam memimpin rombongan dagang,
sedangkan Abu sufyan adsalah orang yang paling keras memusuhi islam,Rasulullah
SAW. Menganjurkan untuk pergi menghadangnya. Beliau tidak mempersiapkanya
secara matang. Sebab urusan ini adalah rombongan dagang, bukan orang-orang yang
akan pergi kemedan perang.
Sampailah kepada abu sufyan berita tentang
kepergian Rasulullah SAW untuk menghadangnya. Ia pun mewngirim utusan ke makkah
meminta tolong kepada kaum quraisy untuk membantu mereka dari pasukan muslim.
Tidak ada seorang pun dari marga kaum Quraisy kecuali sedikit sekali. Mereka
datang dengan semangat yang menggelora, kemarahan dan dendam.
Ketika sampai kepada Rasulullah SAW. Berita tentang
kepergian pasukan Quraisy, beliau meminta pendapat dari para sahabatnya.
Terutama sahabat dari anshar. Ketika beliau bertekad keluar dsari madinah,
beliau ingin mengetahui apa yang ada pada mereka. Kaum muhajirin menyambutnya
dengan baik. Kemudian beliau meminta pendapat mereka lagi untuk kedua kalinya.
Kaum muhajirin kembali menyanggupinya dengan baik. Kemudian beliau meminta
pendapat mereka lagi untuk ketiga kalinya.
Maka mengertilah kaum anshar bahwa yang dimaksudkan
Rasulullah SAW. adalah mereka. Lalu tampilah Sa’ad bin mu’adz , salah
seorang kaum Anshar, bahkan berkata “ demi Allah seandainya engkau membawa kami
kelautan dan menyelam, niscaya kami akan menyelam bersamamu.”
.
Penyebab Terjadinya Pertempuran
Perang Badar. Perang badar
terjadi di lembah Badar pada tahun 624 M. Adapu sebab-sebab terjadinya perang
badar antara lain:
1.
Ketegangan setelah terjadi tukar menukar tawanan perang.
2.
Permintaan Abu Sufyan kepada penduduk Makkah untuk melindungi kafilahnya yang
sedang dalam perjalanan pulang dari Syiria. Permintaan itu ditanggapi oleh
penduduk Makkah dengan penafsiran bahwa kafilah mereka dicegat oleh umat Islam.
3.
Berita pencegatan umat Islam terhadap kafilah Abu Sufyan diterima oleh Abu
Jahal, lalu dia naik pitam dan mengirim pasukannya berjumlah sekitar 900-1.000
orang.
Dilembah Badar tepatnya pada hari 17 Ramadhan 2 H
atau 17 Maret 624 M, Peperangan terjadi antara pasukan Kafir dan Quraisy dan
Umat Islam. Pertama-tama terjadi duel antara anggota pasukan. Tiga anggota
pasukan kafir Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi'ah, Syibah bin Rabi'ah, dan Walid
bin Utbah, berhadapan dengan Hamzah, Ali bin Abu Thalib dan Ubaidah dari pihak
umat Islam Madinah. Dalam pertempuran itu, ketiga kafir Quraisy terbunuh. Utbah
dibunuh oleh Hamzah, Waid di bunuh oleh Ali, dan Syaibah dibunuh oleh Ubaidah.
Seteah itu terjadi peperangan antara dua pasukan.
Nabi Muhammad SAW memimpin sendiri peperangan tersebut. Umat islam yang
berjumla 313 dengan perlengkapan sederhana berhasil memenangkan peperangan. Abu
jahal bersama 70 orang pasukan Makkah terbunuh, sementara pasukan umat Islam 14
orang yang mati syahid terdiri dari 6 orang Muhajirin dan 8 orang Anshor.
Kemenangan di Badar memberikan kesan tersendiri,
baik bagi umat Islam maupun kafir Quraisy Makkah. Diantaranya sebagai berikut:
1.
Semakin solid kekuatan Umat Islam di Madinah.
2.
Menjadi dasar Pemerintahan Nabi di Madinah.
3.
Kemenangan militer umat Islam yang pertama.
4.
Semangat jihad perang badar sangat berpengaruh terhadap dakwah Islam pada
hari-hari berikut.
.
Hikmah Perang Badar
Setelah wahyu yang mengijinkan
kaum muslimin untuk berperang turun, datang berita bahwa kafilah dagang Mekkah
yang dipimpin Abu Sofyan sedang dalam perjalanan pulang dari Syam menuju
Mekkah. Rasulullah mengadakan persiapan untuk keluar bersama 313 atau hingga
317 orang, tapi seorang informan telah membocorkan informasi tersebut pada Abu
Sofyan yang kemudian meminta bantuan ke Mekkah untuk mendatangkan bala tentaranya.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah peperangan besar di Badar yang memberikan
banyak hikmah dan pelajaran, antara lain:
1.
Rasulullah meminta nasihat dan berkonsultasi dengan para Sahabat ketika
merencanakan strategi militer. Hal ini menunjukkan pada kita pentingnya
musyawarah dalam Islam. Rasulullah membiasakan para Sahabat untuk tidak takut
mengemukakan pendapatnya. Dalam perang ini, atas nasihat salah satu sahabatlah
yang kemudian membuat pasukan Islam berada di atas angin, dengan memblokade
pasokan air kepada pasukan musuh.
2.
Perang Badar menunjukkan pada kita kekuatan takdir Allah, dimana sebenarnya
Rasulullah maupun kaum kafir Quraisy tidak berniat untuk berperang, tapi Allah
menetapkan bahwa perang harus terjadi dan melaluinya agama-Nya memperoleh
kemenangan. Allah bahkan membuat pasukan Quraisy nampak sedikit di mata pasukan
Islam dan sebaliknya juga membuat pasukan Islam nampak sedikit di mata kaum
kafir Quraisy. Ilusi ini membuat kedua belah pihak lebih antusias untuk berperang.
3.
Karena perencanaan yang matang dari Rasulullah dan para sahabat serta rasa
tawakal mereka yang tinggi pada Allah lah yang akhirnya membuat Allah
mengirimkan bantuan pasukan malaikat untuk mendongkrak moral dan keyakinan pasukan
Islam di medan perang.
4.
Begitu dekatnya petunjuk yang diterima Rasulullah dari Rabbnya membuat beliau
terhindar dari berbuat kesalahan. Terkait dengan tawanan perang, Allah memberi
petunjuk kepada Rasulullah tentang pilihan yang lebih tepat
dan akhirnya Rasulullah memperbaikinya[2]
B.Perang Uhud
Sejarah perang Uhud
Kekalahan
Quraisy dalam perang Badar membuat mereka ingin melakuakan menumpahakan balas
dendam. Makkah terbakar kebencian terhadap orang-orang muslim karena kekalahan
mereka diperang Badr dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan
mereka saat ini. Bahkan karenannya Quraisy melarang semua penduduk Mekkah
meratapi para korban di Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan,
agar orang-orang muslim tidak merasa diatas angina karena tahu kegundahan dan
kesedihan hati mereka.
Pasca
perang Badr, semua orang Quraisy sepakat unuk melancarkan serangan
habis-habisan terhadap orang-orang muslim, agar kebencian mereka bisa terobati
dan dendam mereka bisa tebalaskan. Karena itu mereka mengadakan persiapan untuk
terjun ke arena peperangan sekali lagi. Diantara pemimpin Quraisy yang saling
bersemangat mengadakan persiapan perang adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Shafwan
bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Abu Rabi’ah. Tindakan pertama
yang mereka lakukan ialah mengumpulkan kembali barang dagangan yang bisa
diselamatkan Abu Sufyan dan yang menjadi sebab pecahnya perang Badr. Mereka
juga menyeru kepada orang-orang yang banyak hartanya, “Wahai semua orang
Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membuat kalian ketakutan dan membunuh
orang-orang terbaik di antara kalian. Maka tolonglah kami dengan harta kalian
untuk memeranginya. Siapa tahu kita bisa menuntut balas.” Mereka memenuhi
seruan ini, hingga terkumpul seribu unta dan seribu lima ratus dinar. Tentang
hal ini allah menurunkan ayat:
اِنَّ الّذِيْنَ كَفَرُوْا
يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ لِيَصَدُّوْا عَنْ سَبِيلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا
ثُمَ تَكُوْنَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمّ يُغْلِبُوْنَ .الأنفال: 36 “Sesunggunhya
orang-orang kafir itu , menajkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari
jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi
mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (Al-Anfal).
Abu
Sufyan adalah orang yang paling bersemangat melakukan persiapan menghadapi
orang-orang muslim, setelah dia kembali dari perang Sawiq dengan tangan hampa,
dan bahkan dia kehilangan harta yang cukup banyak saat itu. Api semakin menyala
setelah yang terakhir kali orang-orang Quraisy kehilangan barang dagangannya
ditangan satuan pasukan muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah, dan bahkan
mengancam ekonomi mereka. Kesedihan dan kegelisahan yang bertumpuk-tumpuk ini
semakin mendorong mereka untuk cepat-cepat mengadakan persiapan perang melawan
orang-orang muslim.
Bermusyawarah untuk Menetapkan
Strategi Defensif
Pembagian
pasukan jihad ini menjadi beberapa kelompok keberangkatannya ke Medan perang
Nabi SAW mendirikan salat jumat dengan orang-orang muslim, menyampaikan petuah
dan perintah kepada mereka dengan penuh semangat, mengabarkan bahwa kemenangan
pasti akan diraih selama mereka sabar serta memerintahkan untuk bersiap-siap
menghadapi musuh. Apa yang disampaikan beliau ini disambut gembira oleh semua orang.
Orang-orang sudah menunggu-nunggu Nabi SAW yang belum keluar dari rumah. Sa’ad
bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair berkata, “Rupanya kalian telah memaksa
Rasulullah SAW”
Keputusan
masalah ini diserahkan kepada keputusan musyawarah. Setelah beliau keluar
rumah, mereka berkata, “wahai Rasulullah. bukan maksud kami untuk menentang
engkau. Berbuatlah menurut kehendak engkau. Jika memang engkau lebih suka untuk
menetap di Madinah maka lakukanlah. “beliau menjawab, “tidak selayaknya bagi
seorang nabi apabila sudah mengenakan baju besinya, untuk meletakannya kembali,
hingga allah membuat keputusan antara dirinya dan musuhnya. beliau membagi
pasukannya menjadi tiga kelompok:
1. Kelompok muhajirin, dibawah kepemimpinan
Mush’ab bin Umar Al-Abdary.
2. Kelompok Aus, yang kepemimpinanya
diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
3. Kelompok Khazraj, yang dipimpin Al-Hubab
bin Al-Mundzir Al-Jamuh.
Pasukan
ini terdiri dari seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi dan
lima puluh orang penunggang kuda. Ada yang berpendapat, kali ini tak seorangpun
yang menunggang kuda. Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum, terutama
untuk mengimami salat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun
kemudian dia juga diperbolehkan untuk ikut serta. Pasukan bergerak ke arah
utara. Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubadah berjalan dihadapan Rasulullah SAW
sambil mengenakan baju besi.[3]
Strategi
defensif dalam perang
Disana
Rasulullah SAW membagi tugas kpasukannya dan membariskan mereka sebagai
persiapan untuk menghadapi pertempuran. Beliaua menunjuk satu detasemen yang
terdiri dari para pemanah ulung. Komandan ini diserahkan kepada Abdullah bin
Jubair bin An-Nu’man Al-Anshary Al-Ausy. Beliau memerintahkan agar mereka mednempati
posisi diatas bukit, sebelah selatan Wadi Qanat, yang dikemudian hari dikenal
dengan nama Jabal Rumat. Posisi tepatnya kira-kira seratus lima puluh meter
dari posisi pasukan muslimin.
Tujuan
dari penempatan detasemen ini disampaikan Rasulullah SAW kepada para pemanah.
Beliau bersabda “lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak
menyerangt kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita diatas
angin atau pun terdesak, agar kita tidak
diserang dari arahmu. Beliau juga bersabda kepada para pemanah itu,
“lindungilah punggung kami. Jika kalian meliat kami sedang bertempur, maka
kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian meliat kami telah mengumpulkan
harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.”
Dalam
riwayat Al-Bukhary disebutkan, beliau bersabda, “jika kalian melihat kami
disambar burung sekalipun, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,
kecuali jika ada utusanku yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami
dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada
utusan yang datang kepada kalian.
Dengan
ditempatkannya pasukan pemanah diatas bukit dengan disertai perintah-perintah
militer yang keras ini, maka beliau sudah bisa menutup satu celah yang
memungkinkan bagi kavaleri Quraisy untuk menyusup ke barisan orang-orang muslim
dari arah belakang dan mengacaukannya. Pasukan muslim disayap kanan dikomandoni
Al-Miqdad bin Al-Amr, disayap kiri dikomandoni Az-Zubair bin Al-Awwam, dan
masih didukung oleh satuan pasukan yang dikomandoni Al-Miqdad bin Al-Aswad. Az-Zubair bertugas menghadang kavaleri
(penunggang pasukan kuda) Quraisy yang dipimpin Khalid bin Al-Walid (yang saat
itu masih kafir).
Dibarisan
terdepan ada sejumlah orang yang pemberani, tokoh-tokoh yang dikenal gagah
perkasa dan tangguh, yang kemampuannya bisa disamakan dengan beribu-ribu orang.
Pengaturan ini merupakan strategi yang sangat bijaksana dan sekaligus amat
detail, yang menggambarkan kecerdikan Rasulullah SAW sebagai seorang komandon
perang. Beliau memilih tempat yang strategis, padahal kedatangan beliau disana
didahului pasukan musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan yang terlindung oleh
ketinggian bukit. Sedangkan sayap kiri pasukan terlindungi oleh satu-satunya
tebing yang ada disitu. Beliau memilihkan tempat yang relative lebih tinggi
dari pasukannya. Jika terdesak, anggota pasukannya tidak mudah menyerah lalu
melarikan diri, yang justru membuka peluang bagi musuh untuk menghabisi dan
menawan mereka.
Jika
mereka terus bertahan, musuh justru bisa mengalami kerugian yang besar, apalagi
jika musuh berusaha untuk terus mendesak maju. Sementara musuh tidak mempunyai
pilihan lain untuk menyerang mereka dari sisi lain. Sebaliknya, jika kemenangan
berpihak kepada pasukan muslimin, maka musuh tidak dapat menghindari dari
kejaran mereka. Disamping semua itu, yang terdiri dari orang-orang yang gagah
perkasa dan pemberani.
Begitulah
Nabi SAW mengatur pasukannya pada hari sabtu pada tanggal 7 syawwal 3 H.
Rasulullah
mengobarkan patriotism prajurit
Rasulullah SAW melarang semua pasukan untuk
melancarkan serangan kecuali atas perintah beliau. Dalam peperangan ini beliau
mengenakan dua lapis baju besi. Beliau menganjurkan untuk berperang,
meningkatkan kesabaran dan keteguhan selama peperangan, merupakan keberanian
dan patriotisme di tengah sahabat. Sambil menghunus pedang yang tajam beliau
berseru, “siapakah yang ingin mengambil pedang itu menurut haknya?”
Ada beberapa orang yang maju kehadapan beliau, siap
untuk mengambilnya, diantaranya Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam,
Umar bin Al-Khattab. Namun pedang itu belum juga diserahkan kepada seorang pun,
hingga Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju ke depan sambil bertanya, “apa
haknya wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyabetkan pedang
ini ke wajah-wajah musuh hingga bengkok.”
“aku
akan mengambilnya menurut haknyna Rasulullah,” jawab Abu Dujanah. Lalu beliau
memberikan pedang itu kepadanya. Abu Dujanah adalah seorang laki-laki pemberani
tanpa menutup-menutupi dirinya di muka umum dalam kancah peperangan, sehingga
terkesan sombong. Dia mempunyai sorban warna merah. Jika sorban itu sudah ia
kenakan, maka semua orang tahu bahwa dia akan berperang hingga mati setelah
mengambil pedang dari beliau, maka dia mengikaittkan sorban merahnya di kepala,
lalu dia berjalan mengabil tempat diantara dua pasukan. Saat itud Rasulullah
SAW bersabda, “sungguh iu adalah jalanya yang di benci oleh allah keculi
seperti di tempat ini.”[4]
Strategi
Rasulullah Menghadapi orang-orang Kafir Makkah
a. .Rasulullah menyusun strategi yang
akurat untuk menghadapi orang-orang musyrik Quraisy. Rasulullah memilih lokasi
yang tepat, memilih orang-orang yang layak untuk ikut berperang dan menolak
mereka yang tidak layak. Memilih lima orang pasukan pemanah dengan menekankan
wasiat kepada mereka. Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga bagian,
kemudian beliau memberikan bendera kepada salah seorang anggota dari
masing-masing bagian. Kelompok pasukan tersebut adalah:
1. Pasukan muhajirin, bendera dipegang oleh
Mush’ab bin Umair.
2.
Pasukan
Aus dari golongan Anshar, bendera dipegang oleh Usaid bin Hudhair.
3.
Pasukan
Khazraj dari golongan Anshar, bendera dipegang oleh Al-Hubab bin Al-Mundzir.
b.Rasulullah memberikan motivasi kepada
segenap pasukan agar tak gentar memerangi para musuh dan bersabar di medan
perang, supaya jiwa mereka kuat dan tegar menghadapi lawan. Kemudian Rasulullah
berkhutbah “wahai sekalian kaum muslimin, aku wasiatkan kepada kamu suatu
wasiat yang diwasiatkan allah kepadaku dalam kitab_Nya, agar kamu patuh dan
taat kepada_Nya, menjauhi perbuatan yang diharamkan. Hari ini kamu berada
ditempat pembalasan dan persediaan amal, bagi orang yang ingat akan tugasnya.
Kemudian ia melaksanakannya dengan sabar, yakin dan kerja keras. Sesungguhnya
jihad melawan musuh itu berat dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya allah
bersama orang yang taat kepada_Nya, dan setan bersama orang yang tidak taat
kepada allah. Awalilah perbuatan kamu dengan sabar melaksanakan jihad.
Berpegangteguhlah kamu dengan hal itu sesuai dengan janji allah terhadap kamu.
Laksanakanlah apa yang aku perintahkan kepada kamu, sesungguhnya aku sangat
mengharapkan tindakan yang benar dari kamu. sesungguhnya saling berselisih dan
bertengkar itu adalah kelemahan dan tidak disukai allah. Dan allah tidak akan
memberikan pertolongan dan keberuntungan dengan semua itu.”
Khutbah rasulullah memiliki beberapa
tujuan:
1. Memberi motivasi agar kaum muslimin
bekerja keras dimedan perang
2. Memberi motivasi agar kaum muslimin
bersabar dalam memerangi musuh
3. Menjelaskan kepada kaum muslimin dampak
dari sikap pertikaian dan pertengkaran.
Petunjuk
rasulullah ini mengajarkan kepada kita tentang beberapa hakikat kebenaran yang
kokoh, bahwa betapapun besarnya persenjataan dan strategi suatu pasukan,
sesungguhnya itu tidak berarti apa-apa, kecuali jika dibarengi dengan jiwa yang
kuat, jiwa-jiwa yang berani mati, dan lebih mengharapkan kematian daripada
kehidupan. Kekuatan ini diberikan kepada pasukan tentara dengan memberikan
nasehat, arahan, menanamkan cinta jihad dan syahid ke dalam jiwa mereka.
b.Rasulullah mengetahui betapa pentingnya
keberadaan bukit uhud untuk melindungi pasukan kaum muslimin. Ketika pasukan
sampai di bukit uhud, Rasulullah memerintahkan agar punggng mereka mengarah ke
bukit Uhud dan wajah mereka mengarah ke kota Madinah. Rasulullah memilih lima
puluh orang pemanah handal dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Rasulullah
menempatkan mereka diatas bukit Ainain yang berhadapan dengan bukit Uhud untuk
mencegah pasukan musyrik medekat dan menyusup disekitar pasukan kaum muslimin.
Rasulullah mengeluarkan perintah kepada mereka, “jika kalian melihat kami
kalah, maka janganlah meninggalkan tempat kamu ini, hingga aku mengutus utusan
kepada kalian. Dan jika kalian lihat kami menang, maka jangan pula kalian
tinggalkan tempat ini hingga aku mengutus seorang utusan kepada kalian.”
Rasulullah mengingatkan kepada para pasukan, “janganlah kalian meninggalkan
tempat ini hingga aku memberi izin kepada kalian.” Rasulullah juga berkata,
“janganlah salah seorang kalian membunuh hingga aku memberikan perintah
kepadanya.” Rasulullah berkata kepada kepada pemimpin pasukan pemanah,
“lindungilah kami dengan anak panah. Panahlah mereka agar mereka tidak
menyerang kami dari belakang. Dan tetaplah berada di tempatmu. Sesungguhnya
peperangan ini bisa menjadi kemengan menjadi bagi kita atau kekalahan.” Rasulullah
berkata kepada pasukan pemanah, “Tetaplah berada di tempat kalian, janganlah
kalian meninggalkan tempat kalian. Jika kalian melihat menyalahakan mereka,
maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian. Jika kalian melihat kami
terbunuh, janganlah kalian menyelamatkan dan mempertahankan kami dengan
meninggalkan tempat kalian. Akan tetapi cukup panahlah mereka. Sesungguhnya
kuda tidak akan maju kearah panah. Kita akan menang, jika kalian tetap berada
ditempat kalian. Ya allah, aku bersaksi kepada_Mu.
c.Meluruskan Barisan dan Penertiban Pasukan
Rasulullah
dan para sahabat maju meluruskan barisan seperti barisan shalat. Rasulullah
berjalan meluruskan barisan tersebut. Rasulullah menyusun barisan tersebut
dengan mengatakan, “majulah wahai fulan!” mundurlah wahai fulan!” Rasulullah
meluruskan barisan mereka hingga barisan tersbut benar-benar lurus. Rasulullah
menempatkan orang-orang yang kuat pada barisan depan agar mampu memberikan
jalan bagi pasukan yang ada dibelakang.
d.Tidak menyerang kecuali atas perintah
pimpinan perang
Imam
Ath-Thabari berkata, “punggung Rasulullah dan pasukannya menghadap ke arah
bukit Uhud. Beliau berkata, “janganlah salah seorang dari kalian menyerang
lawan hingga kami memerintahkannya untuk menyerang.” Terdapat pelajaran penting
dalam arahan ini, yaitu adanya satu komando perang, karena Rasulullah lebih
mengetahui apa yang lebih baik bagi mereka.[5]
Hikmah
Perang Uhud
Ibnu Qayyim telah membahas hikmah dan sasaran
lebih jauh dari peperangan ini. Ibnu Hajar menuturkan, para ulama berkata,
"kisah mengenai Perang Uhud dan akhir yang menimpa orang-orang muslim
mengandung berbagai faidah dan hikmah Rabbani, diantaranya, memperlihatkan
kepada orang-orang muslim akibat yang sangat tidak menguntungkan dari
kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya adalah tindakan para pemanah yang
meninggalkan posnya diatas bukit, padahal Rasulullah SAW memerintahkan agar
mereka tidak meninggalkan tempat itu, bagaimanapun keadaan inti pasukan
muslimin. Kemudian, seperti yang biasa terjadi pada diri pada rasul, jika
mereka mendapatcobaan tentu akan disusul dengan kesudahannya.
Hikmah dari cobaan ini, jika para rasul terus-menerus
mendapat kemenangan, maka orang-orang yang sebenarnya tidak termasuk golongan
mereka juga ikut bergabung, sehingga sulit dibedakan mana orang yang baik dan
yang tidak baik. Sebaliknya, jika mereka terus-menerus kalah, maka tujuan
pengutusan mereka tidak tercapai. Hikmahnnya, akan tampak jika sesekali menag dan
sesekali kalah, agar orang yang membenarkan dapat dibedakan dari orang yang
mendustakan. Sebab kemunafikan
orang-orang munafik benar-benar tersamar ditengah orang-orang muslim. Saat
kisah ini bergulir dan orang-orang munafik menampakkan belangnya lewat
perbuatan dan perkataan mereka, maka semuanya menjadi tampak jelas, sehingga
orang-orang muslim mengetahui bahwa ditengah mereka ada musuh. Dengan begitu
mereka menjadi lebih waspada.
Tentang
kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan
yang dirasakannya. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapat cobaan,
sedangkan orang-orang munafik menjadi risau. Allah telah menyediakan bagi
hamba-hamba_Nya yang mukmin kedudukan yang mulia disisi_Nya, yang tidak bisa
dicapai begitu saja. Tapi dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan
bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut. Mati syahid merupakan kedudukan
para penolong agama allah yang paling tinggi. Inlah yang dikendaki allah bagi mereka.
Allah ingin menghancurkan musuh-musuhnya, dengan menampakkan sebab-sebab yang
memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyika para penolong_Nya.
Dengan begitu dosa orang-oramg mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir
menjadi menumpuk. [6]
C.Perang
khondaq
Sejarah perang
Khondaq
Setelah orang yahudi mengalami
kekalahan dalam peperangan, mereka harus menerima beberapa kehinaan dan
pelecehan karena ulah mereka sediri yang berkhianat, berkonspirasi dan
melakukan makar, mereka menunggu-nunggu apa yang akan menimpa orang muslim
sebagai akibat bentrok fisik dengan kaum quraisy. Mereka kembali merancang
konspirasi baru terhadap orang-orang muslim dengan menghimpun pasukan sebagai
persiapan untuk memerangi orang muslim mereka merancang dan melaksanakan
langkah ini dengan sembunyi-sembunyi dan sangat berhati-hati, ada dua puluh
pemimpin dan pemuka Yahudi dari Bani Nadhir yang mendatangi Quraisy di Makkah,
mereka mempengaruhi orang-orang Quaraisy agar menyerang Rasulullah SAW dan
berjanji akan membantu
rencana ini serta mendukungnya, Quraisy menyambutnya dengan senang hati karena
mereka sebelumnya tidak bisa memenuhi janji berperang di Badar untuk kedua
kalinya.
Dua puluh orang Yahudi juga pergi ke
Ghathafan dan berkeliling keberbagai kabilah arab dengan ajakan sama yang diseruan
kepada kaum Quraisy, rencana yang dirancang orang Yahudi dengan menghimpun
orang-orang kafir untuk menyerang
Rasulullah SAW dan menghentikan dakwahnya berjalan mulus, secara serentak dari
arah selatan dikerahkan pasukan yang terdiri dari Quraisy, Kinanah dan
sekutu-sekutu mereka dari penduduk Tihamah, dibawah komandan Abu Sufyan
Jumlah mereka ada empat ribu
prajurit. Bani Sulaiman di Marr Azh-zhahran juga ikut bergabung bersama mereka.
Sedangkan dari arah timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri dari Bani
Fazarah yang dipimpin Uyainah bin Hishn, Bani murrah yang dipimpin Al-Hadits
bin Alif, dan lain-lainnya berjumlah enam ribu orang, disekitar madinah
terdapat sepuluh ribu dari pasukan Quraisy dan Yahudi, sedangkan kaum muslimin
sekitar tiga ribu orang. informasi tentang rencana merekapun sudah terdengar di
Madinah, kemudian Rasulullah SAW menyelenggarakan majlis tinggi permusyawaratan
untuk merancang pertahanan. Dalam majlis tersebut seorang shahabat mengemukakan untuk membuat
parit sepanjang empat puluh hasta yang digali sebelah utara Madinah.
Orang-orang muslim bekerja dengan
giat dan penuh semangat sekalipun dalam keadaan lapar. Annas berkata,’’ masing-masing orang
yang menggali parit diberi tepung gandum sebanyak satu genggam tangan lalu dicampur
minyak sebagai adonan, kerongkongan mereka jarang tersentuh makanan, sehingga
mulut mereka keluar bau yang tidak sedap. Abu Tholib berkata ‘‘kami mengadukan lapar
kepada Rasulullah SAW kami mengganjal perut kami dengan batu, beliau juga
mengganjal perutnya dengan dua buah batu’’
Rosulullah
SAW keluar rumah dengan tiga ribu pasukan. Sedangkan parit membatasi posisi
mereka dengan pasukan musuh. Madinah diwakilkaan kepada Ibnu Ummi Maktum, para
wanita dan anak-anak ditempatkan dirumah khusus sebagai perlindungan kepada
mereka. Orang-orang musyrik memutuskan untuk mengepung orang-orang
muslim,tetapi mereka tidak siap melakukan pengepungan. Menurut mereka
penggalian parit dianggap sebagai siasat perang karena itu mereka tidak pernah
memperhitungkannya sama sekali. Orang-orang musyrik hanya bisa berputar-putar
didekat parit dengan kemarahannya, mereka terus mencari titik lemah musuh,
sementara orang-orang muslim terus memanahi dari sebrang parit agar musuh tidak
dapat mendekati parit. Akan tetapi sekelompok orang diantara kaum Quraisy
seperti Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan lainnya menemukan lubang
parit yang lebih sempit dan akhirnya mereka terjun melewati pari itu, kemudian
Ali bin Abu Tholib dan beberapa orang muslim langsung mengepung daerah yang
telah dilewati, namun mereka terjun keparit dan melarikan diri dalam keadaan
terdesak karena terbunuhnya Amr oleh Ali, sampai sampai Ikrimah bin Abu Jahl
meninggalkan tombaknya
Dapat disimpulkan bahwa upaya yang
dilakukan orang-orang Quraisy untuk menyebrangi parit dan serangan orang-oreng
muslim berjalan hingga beberapa hari. Karena adanya parit yang menghalangi
pasukan, maka tidak sampai terjadi pertempuran secara langsung. Peperangan
terbatas hanya melepaskan anak panah. Sekalipun begitu ada oda orang dari
beberapa pihak menjadi korban, yaitu enam dari orang muslimin dan sepuluh dari
musyrikin
Saat kaum muslimin sedang menghadapi perang, Para
penghianat bersiap-siap melancarkan aksinya kepada orang-orang muslim.Tokoh
penjahat bani Nadhir ( Huyai bin Akhtab)
datang ke perkampungan Bani Quraizhah. Dia menemui Ka’ab bin lan Asad Al-Quraizy, pemimpin Bani
Quraizhah,sekutu dan rekannya. Padahal dia sudah melakukan perjanjian dengan
Rasulullah untuk tidak menolong siapapun yang hendak memerangi beliau. Huyai
terus menerus membujuk ka’ab hingga akhirnya Huyai bersumpah atas nama Allah
dan berjanji ‘’jika orang-orang Quraisy dan Ghatafan mundur, mereka tidak jadi
menyerang Muhammad maka aku akan bergabung denganmu di dalam bentengmu dan aku
sanggup menanggung akibatnya denganmu’’ kemudian ka’ab bergabung dengan
orang-orang musyrik untuk memerangi orang-orang muslim, ketika itulah
orang-orang yahudi bangkit untuk memerangi orang muslim.
Allah
berfirman tentang mereka
“dan
(ingatlah) ketika orang-orang munafik dan ormg-orng yang berpenyakit dalam
hatinya berkata, “allah dan rasulnya tidak enjanjikan kepada kami melainkan
tipu daya.” Dan ingatlah ketika segoongan diantara mereka berkata, “hai
penduduk yastrib (madinah) didak ada tempat bagi kalian, maka kembalilah dan
sbagian dari mereka meminta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan
berkata, “sesungguhnya rumah-rumah kami (tidak ada penjaga) dan rumah-rumah itu
sesekali tidak terbuka mereka tidak lain hanyalah hendak lari”
(al-ahzab,33:12-13).
Sementara tempat penampungan para
wanita dan anak-anak tidak jauh dari posisi Bani Quraizhah yang berhianat dan
tempat itu tidak dijaga pasukan namun orang Quraisy mengira mereka sangat
dijaga ketat akhirnya mereka tidak berani menyerang. Setelah mendengar penghianatan
bani Quraizhah, Rosulullah SAW memikirkan beberapa strategi salah
satunya adalah mengutus beberapa penjaga ke Madinah untuk menjaga para wanita dan anak-anak, beliau
juga membuat perjanjian dengan Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin Auf dan
pemimpin Ghatafan bahwa beliau akan menyerahkan seper tiga hasil panen kurma di
Madinah kepada mereka, asal mereka berdua mau mengundurkan diri dari kancah
bersama kaumnya, lalu membiarkan beliau menghantam Quraisy, akan tetapi mereka
tidak mau membagi hartanya kecuali dengan cara jual beli ataupun sedang menjamu
Ada seorang dari Ghafatan yang bernama Nu’aim BIN Mas’ud bin Amir Al-syaja’y yang menemui Rosulullah
SAW dan berkata “sesungguhnya aku telah masuk islam tetapi kaumku tidak
mengetahui keislamanku, maka perintahkanlah kepadaku apapun yang engkau
kehendaki”, sabda Rosulullah SAW “berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini
adalah tipu muslihat”. Kemudian Nu’aim menemui bani Quraizhah yang menjadi
temannya semasa jahiliyah, Nu’aim membujuk mereka agar tidak mendukung kaum
Quraisy dan Ghatafan untuk membinasakan Rosulullah SAW dan kaum muslimin, jika
kaum Quraisy dan Ghatafan memenangmakan negeri,harta benda dan wanita-wanita
berada ditempat lain yang akan dipergunakan sebaik-baiknya dan mereka akan
kembali lagi ke negri mereka dan meninggalkan bani Quraizhah beserta muhammad
yang akan melampiaskan dendamnya. Akhirnya mereka beranggapan bahwa pendapat
yang dikemukakan Nu’aim sangatlah tepat.
Nu’aim juga menemui Quraisy dan orang-orang
Ghathafan dan berkata “rupanya orang-orang Yahudi merasa menyesal karena telah
melanggar perjanjian Muhammad dan rekan-rekannya, secara diam-diam mereka
mengirim utusan menemui Muhammad bahwa mereka hendak meminta jaminan kepada
kalian, lalu jaminan itu akan mereka serahkan kepada Muhammad, yang tentu saja
mereka berpaling dari kalian. Jika mereka meminta jaminan kalian tidak perlu
memberikannya kepada mereka”
Malam sabtu bulan Syawal 5 H,
orang-orang Quratsy mengirim utusan untuk menemui orang-orang yahudi
mengajaknya untuk menghabisi Muhammad. Orang-orang Yahudi juga mengirim utusan
untuk menemui orang-orang Quraisy untuk menyampaikan pesan bahwa mereka tidak
mau ikut berperang kecuali mereka diberikan jaminan. Dengan begitu artinya
Nu’aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan menimpakan perpecahan dibarisan
musuh sehingga semangat mereka menjadi turun
Setelah muncul perpecahan dibarisan
orang-orang musyrik Allah mengirimkan angin topan yang mengakibatkan robohnya
kemah-kemah dan mereka bersiap-siap untuk kembali ke Makkah. Pada malam itu
juga Rasulullah mengutus Hudzaifah bin Al-yaman untuk menemui orang-oang
Quraisy dan kembali lagi membawa kabar senang dengan keadaan mereka.
Perang Khondak ini terjadi pada
tahun 5 Hijriyah pada bulan Syawal dan berakhir pada tahun Dzul Qa’idah.
Menurut riwayat ibnu Sa’d, Rasulullah kembali dari khondak pada hari rabu,
seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qa’idah. Perang khondak atau perang ahzab
bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian, tetapi merupakan
pertempuran yang tidak memakan banyak korban. Dalam catatan sejarah islam,
perang khondaq merupakan perang yang berakhir dengan pelecehan dipihak pasukan
musyrikin dan memberi kesan bahwa kekuatan sebesar apapun di Arab tidak akan
sanggup melumpuhkan kekuatan yang lebih kecil yang sedang makar di Makkah.
Sebab bangsa arab tidak sanggup menghimpun kekuatan yang lebih besar daripada
pasukan Ahzab. Rosulullah SAW bersabda ”ketika Allah sudah mengalahkan musuh.
Sekarang kitalah yang ganti menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang
kita, kitalah yang akan mendatangi mereka’’.[7]
Strategi
perang khondaq
1.
Membuat parit sepanjang empat puluh hasta yang digali sebelah utara Madinah
2.
Mengutus beberapa penjaga ke Madinah untuk
menjaga para wanita dan anak-anak
3.
Membuat perjanjian dengan Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin Auf dan
pemimpin Ghafatan bahwa beliau akan menyerahkan seper tiga hasil panen kurma di
Madinah kepada mereka, asalkan mereka berdua mau mengundurkan diri dari kancah
bersama kaumnya, lalu membiarkan beliau menghantam Quraisy, akan tetapi mereka
tidak mau membagi hartanya kecuali dengan cara jual beli ataupun sedang menjamu
4.
Menemui bani Quraizhah yang menjadi temannya semasa jahiliyah, Nu’aim
membujuk mereka agar tidak mendukung kaum Quraisy dan Ghatafan untuk
membinasakan Rosulullah SAW dan kaum muslimin.
Hikmah
Perang Khondaq
1.
Selama penggalian parit terjadi beberapa tanda nubuwah yang berkaitan
dengan rasa lapar yang mendera mereka, Janir bin Abdullah melihat Rasulullah
yang tersiksa karena kelaparan kemudian dia menyembelih satu hewan dan istrinya
menanak shatu sha’ tepung gandum. Setelah masak Jabir membisiki Rasulullah agar
datang kerumahnya bersama beberapa shahabatnya saja, tetapi beliau justru
mengajak semua orang yang menggali dengan berjumlah hambir seribu orang, lalu
mereka melahap makanan yang tak sebegitu berapa banyak hingga semunya kenyang,
bahkan masih ada sisa daging dan adonan tepungnya
2.
Saat An-Nu’man bin Basyir datang ketempat penggalian parit sambil membawa
kurma setangkup tangan untuk diberikan kepada ayah dan pamannya, kemudin
Rasulullah meminta kurma dan meletakkannya diselembar kain, setelah itu beliau
memanggil semua orang untuk memakannya, ternyata setangkup kurma tersebut masih
menyisa dengan jumlah yang banyak hingga tercecer dari hamparan kain
3.
Saat menggali parit terdapat tanah yang sangat keras yang tidakbisa digali
dengan cangkul kemudian mereka melaporkan kepada Rasulullah, kemudian
Rasulullah SAW menghantam tiga kali pukulan disertai dengan menyebut nama Allah
SWT, maka hancurlah tanah atau batu yang masih tersisa tersebut
4.
Orang-orang muslim selalu berdo’a “ ya Allah tutupilah kelemahan kami dan
amankanlah kegundahan kami’’ Rasulullah SAW juga berdo’a untuk kemalangan musuh
‘’ ya Allah yang menurunkan kitab dan yang cepat hisabnya, kalahkanlah pasukan,
ya Allah kalahkanlah dan guncangkanlah mereka’’. Setelah muncul perpecahan
dibarisan orang-orang musyrik dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan
angin toufan kepada mereka, sehingga kemah-kemah mereka roboh, dan Allah juga
menjadikan hati mereka menjadi ketakutan[8]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pertempuran
Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah
pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini
terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum
Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari
Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan
sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan
Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.
Pasca
perang Badr, semua orang Quraisy sepakat unuk melancarkan serangan
habis-habisan terhadap orang-orang muslim, agar kebencian mereka bisa terobati
dan dendam mereka bisa tebalaskan. Karena itu mereka mengadakan persiapan untuk
terjun ke arena peperangan sekali lagi.
Khutbah
rasulullah memiliki beberapa tujuan:
1. Memberi motivasi agar kaum muslimin
bekerja keras dimedan perang
2. Memberi motivasi agar kaum muslimin
bersabar dalam memerangi musuh
3. Menjelaskan kepada kaum muslimin dampak
dari sikap pertikaian dan pertengkara
Perang
Khondak ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah pada bulan Syawal dan berakhir pada
tahun Dzul Qa’idah. Menurut riwayat ibnu Sa’d, Rasulullah kembali dari khondak
pada hari rabu, seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qa’idah. Perang khondak
atau perang ahzab bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian
empat
ribu prajurit. Bani Sulaiman di Marr Azh-zhahran juga ikut bergabung bersama
mereka. Sedangkan dari arah timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri
dari Bani Fazarah yang dipimpin Uyainah bin Hishn, Bani murrah yang dipimpin
Al-Hadits bin Alif, dan lain-lainnya berjumlah enam ribu orang, disekitar
madinah terdapat sepuluh ribu dari pasukan Quraisy dan Yahudi, sedangkan kaum
muslimin sekitar tiga ribu orang.
B. Kritik dan saran
Dalam pembuatan makalah ini, kami banyak
kesalahan dan kekurangan karena kami dalam proses pembelajaran. Maka dari itu
kami menerima dengan ikhlas dan lapang dada kritik dan saran dari teman-teman.
Kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau referensi dari makalah ini. Karena kesempurnaan hanya milik
Allah semata.
Daftar Pustaka
Al-Wakidi, Kitab Al- Maghazi Muhammad, PT ufuk Publishing
House, Jakarta: 2012
Syafiyyurrahman,Sirah
Nabawiyah, CV Pustaka islamika, Bandung: 2008
Muhammad
Ali. Sejarah lengkap Rasulullah, Pustaka Al- Kautsar, Jakarta: 2012
[1] Al-Wakidi, Kitab Al- Maghazi Muhammad, PT ufuk Publishing House,
Jakarta: 2012, hlm 301-302
[2] Ibid,2012, hlm 306-311
[3] Syafiyyurrahman,Sirah Nabawiyah, CV Pustaka islamika,
Bandung: 2008, hlm 327-332
[4] Ibid, 330-338
[5] Ali Muhammad. Sejarah lengkap Rasulullah, Pustaka Al- Kautsar,
Jakarta: 2012,hlm 17-19
[6] Ibid hlm 378-379
[7]Ibid 2012, hlm 329-330
[8] Ibid hlm 401-407
Komentar
Posting Komentar