Langsung ke konten utama

makalah sejarah dakwah




  BAB I
                                                        PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perjuangan Nabi Muhammad untuk menyiarkan agama islam tidaklah mudah, Banyak cobaan dan rintangan yang dihadapi saat melaksanakan perinta Allah SWT, namun Nabi Muhammad selalu sabar dalam menghadapi cobaan tersebut dengan lapang dada, Salah satu contoh cobaan yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah banyaknya terjadi peperangan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Dalam berbagai Riwayat diceritakan bahwa umat muslim banyak melakukan peperangan dengan kaum Musyrikin. Hal ini terjadi karena kaum musyrikin menentang dakwak-dakwah dari Nabi Muhammad SAW.
Kaum Musyrikin menolak sebuah perubahan dan kebangkitan sebuah risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Beliau sangat mengerti sifat bangsa Quraisy yang sangat keras mempertahankan keyakinan mereka, Beliau mengetahui cepat atapun lambat mereka akan menghentikan dakwah-dakwah agama islam, beliau mengetahui bahwa kaum Quraisy tidak akan membiarkan Makkah menjadi pusat penyiaran islam, mereka tidak akan menyerah begitu saja tanpa melewati pertumpahan darah. Jadi periode Makkah dilalui tanpa memberikan perlawanan dalam bentuk fisik. Konfrontasi senjata baru dimulai pada periode Madinah setelah diizinkan oleh Allah untuk berperang dan kaum muslimin sudah memiliki kekuatan untuk berperang.

B.     Rumusan Masalah

1.Bagaimana Sejarah dari perang Badar, perang Uhud dan peranghandak?
2.Bagaimana Strategi dari perang badar perang Uhud dan perang khandak pada zaman Rasulullah?
3.Apa Hikmah dibalik  dari Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandak itu?

                            








BAB II
PEMBAHASAN
A . Perang Sejarah perang badar
            Surat Al- Anfal merupakan pejelasan dari Allah tentang peperangan Badr, yang berbeda jauh dengan penjelasan-[enjelasan lain yang membicarakan raja dan pemimpin setelah kemenangan.
            Pertama-tama Allah hendal mengalihkan pandangan orang0-orang yang Muslim ke ahklak mereka yang kurang atau berlebih-lebihan pada masa lampa, agar mereka berusaha menyempurnakannya dan mensucikan diri.Kemenangan ini menjadi nyata karena dukungan dan pertolongan Allah dari balik ghoib bagi orang-orang Muslim. Allah perlu menyebutkan hal ini, agar mereka tidak terkecoh oleh kehebatan dan keberanian diri sendiri, sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi mereka justru tawakal kepada Allah, taat kepada-Nya dan kepadaRosul-Nya. Kemudian Allah menejelasakan tujuan yang mulia dari peperangan yang menegangkan dan banyak memeakan korban ini, menunjukkan beberapa sifat dan ahklak kepada mereka yng harus diperhatikan saat perang dan saat mendapat kemenangan. Kemudian Allah berfirman kepada orang-orang Musyrik,Yahudi,dan para tawana perang , menyampaikan peringatan yang nyata dan membimbing mereka agar menerima kebenaran.
            Setelah itu Allah berfirman kepada kaum Muslim tentang masalah harta rampasan perang dan meletakkan dasar-dasar masalahitu. Kemudian Allah menjelaskan dan menetapkan aturan-aturan main saat perang dan damai, karena dakwah islam saat itu sudah memasuki tahapan ini, agar perang yang dilakukan orang-orang Muslim berbeda dengan perang yang dilakukan orang-orang jahiliyyah . Mereka unggul karena ahklak dan nilai-nilai yang luhur serta menegakkan kepada dunia bahwa Islam bukan sekedar teori, tetapi Islam membekali para pemeluknya secara praktis, berlandaskan kepada dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang disertainya.Kemudian Allah menetapkan beberapa butir undang-undang daulah islam, dengan membuat perbedaan antara orang-orang Muslim yang menetapkan di wilayah Islam dan mereka yang menetap di wilayah luar Islam.
Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.
Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.[1]

     Jalannya Peperangan
Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijrah, terjadilah perang Badar Kubra. Sebuah pertempuran sengit yang menjadi penentu nasib islam dan dakwahnya, serta nasib kemanusiaan secara maknawi. Setiap penakhlukan, pembebasan, dan kemenangan yang terjadi, juga setiap imperium dan pemerintahan yang tegak, berhutang pada penakhlukan nyata pada medan pertempuran perang Badar. Oleh karena itulah Allah menyebutnya sebagai Yaumul Furqan ( hari pembeda).

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“ Jika kamu beriman kepadan Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) pada hari furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” ( QS. Al-Anfal 41).
Diantara kisah tentang ini adalah bahwa rasulullah SAW. Telah mendengar berita tentang Abu Sufyan bin Harb. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari Negeri Syam dengan rombongan dagang yang besar dari kaum Quraisy. Pada rombongan dagang tersebut terdapat harta-harta dan barang-barang perniagaan mereka.
Kafilah dagang itu sendiri membawa harta kekayaan penduduk makkah, yang jumlahnya sangat melimpah, yaitu sebanyak 1000 unta yang membawa harta benda milik mereka, yang nilainya tidak kurang dari 5000 dinar emas. Sementara yang mengawalnya tidak lebih dari 40 orang. Ini merupakan kesempatan emas bagi psukan madinah untu melancarkan pukulan yang telak terhadap kaum musyrik,pukulan dalam bidan politik, ekonomi, dan militer, jika mereka sampai kehilangan kekayaan yang jumlahnya tiada terkira ini.
Ketika Rasulullah SAW. Mendengar bahwa Abu sufyan sedang dalamn perjalanan pulang dari negeri syam memimpin rombongan dagang, sedangkan Abu sufyan adsalah orang yang paling keras memusuhi islam,Rasulullah SAW. Menganjurkan untuk pergi menghadangnya. Beliau tidak mempersiapkanya secara matang. Sebab urusan ini adalah rombongan dagang, bukan orang-orang yang akan pergi kemedan perang.
Sampailah kepada abu sufyan berita tentang kepergian Rasulullah SAW untuk menghadangnya. Ia pun mewngirim utusan ke makkah meminta tolong kepada kaum quraisy untuk membantu mereka dari pasukan muslim. Tidak ada seorang pun dari marga kaum Quraisy kecuali sedikit sekali. Mereka datang dengan semangat yang menggelora, kemarahan dan dendam.
Ketika sampai kepada Rasulullah SAW. Berita tentang kepergian pasukan Quraisy, beliau meminta pendapat dari para sahabatnya. Terutama sahabat dari anshar. Ketika beliau bertekad keluar dsari madinah, beliau ingin mengetahui apa yang ada pada mereka. Kaum muhajirin menyambutnya dengan baik. Kemudian beliau meminta pendapat mereka lagi untuk kedua kalinya. Kaum muhajirin kembali menyanggupinya dengan baik. Kemudian beliau meminta pendapat mereka lagi untuk ketiga kalinya.
Maka mengertilah kaum anshar bahwa yang dimaksudkan Rasulullah SAW. adalah mereka. Lalu tampilah Sa’ad bin mu’adz  , salah seorang kaum Anshar, bahkan berkata “ demi Allah seandainya engkau membawa kami kelautan dan menyelam, niscaya kami akan menyelam bersamamu.”

.    Penyebab Terjadinya Pertempuran
Perang Badar. Perang badar terjadi di lembah Badar pada tahun 624 M. Adapu sebab-sebab terjadinya perang badar antara lain:
1.      Ketegangan setelah terjadi tukar menukar tawanan perang.
2.      Permintaan Abu Sufyan kepada penduduk Makkah untuk melindungi kafilahnya yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syiria. Permintaan itu ditanggapi oleh penduduk Makkah dengan penafsiran bahwa kafilah mereka dicegat oleh umat Islam.
3.      Berita pencegatan umat Islam terhadap kafilah Abu Sufyan diterima oleh Abu Jahal, lalu dia naik pitam dan mengirim pasukannya berjumlah sekitar 900-1.000 orang.
Dilembah Badar tepatnya pada hari 17 Ramadhan 2 H atau 17 Maret 624 M, Peperangan terjadi antara pasukan Kafir dan Quraisy dan Umat Islam. Pertama-tama terjadi duel antara anggota pasukan. Tiga anggota pasukan kafir Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi'ah, Syibah bin Rabi'ah, dan Walid bin Utbah, berhadapan dengan Hamzah, Ali bin Abu Thalib dan Ubaidah dari pihak umat Islam Madinah. Dalam pertempuran itu, ketiga kafir Quraisy terbunuh. Utbah dibunuh oleh Hamzah, Waid di bunuh oleh Ali, dan Syaibah dibunuh oleh Ubaidah.
Seteah itu terjadi peperangan antara dua pasukan. Nabi Muhammad SAW memimpin sendiri peperangan tersebut. Umat islam yang berjumla 313 dengan perlengkapan sederhana berhasil memenangkan peperangan. Abu jahal bersama 70 orang pasukan Makkah terbunuh, sementara pasukan umat Islam 14 orang yang mati syahid terdiri dari 6 orang Muhajirin dan 8 orang Anshor.
Kemenangan di Badar memberikan kesan tersendiri, baik bagi umat Islam maupun kafir Quraisy Makkah. Diantaranya sebagai berikut:
1.      Semakin solid kekuatan Umat Islam di Madinah.
2.      Menjadi dasar Pemerintahan Nabi di Madinah.
3.      Kemenangan militer umat Islam yang pertama.
4.      Semangat jihad perang badar sangat berpengaruh terhadap dakwah Islam pada hari-hari berikut.

.    Hikmah Perang Badar
Setelah wahyu yang mengijinkan kaum muslimin untuk berperang turun, datang berita bahwa kafilah dagang Mekkah yang dipimpin Abu Sofyan sedang dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Mekkah. Rasulullah mengadakan persiapan untuk keluar bersama 313 atau hingga 317 orang, tapi seorang informan telah membocorkan informasi tersebut pada Abu Sofyan yang kemudian meminta bantuan ke Mekkah untuk mendatangkan bala tentaranya. Yang terjadi kemudian adalah sebuah peperangan besar di Badar yang memberikan banyak hikmah dan pelajaran, antara lain:
1.      Rasulullah meminta nasihat dan berkonsultasi dengan para Sahabat ketika merencanakan strategi militer. Hal ini menunjukkan pada kita pentingnya musyawarah dalam Islam. Rasulullah membiasakan para Sahabat untuk tidak takut mengemukakan pendapatnya. Dalam perang ini, atas nasihat salah satu sahabatlah yang kemudian membuat pasukan Islam berada di atas angin, dengan memblokade pasokan air kepada pasukan musuh.
2.      Perang Badar menunjukkan pada kita kekuatan takdir Allah, dimana sebenarnya Rasulullah maupun kaum kafir Quraisy tidak berniat untuk berperang, tapi Allah menetapkan bahwa perang harus terjadi dan melaluinya agama-Nya memperoleh kemenangan. Allah bahkan membuat pasukan Quraisy nampak sedikit di mata pasukan Islam dan sebaliknya juga membuat pasukan Islam nampak sedikit di mata kaum kafir Quraisy. Ilusi ini membuat kedua belah pihak lebih antusias untuk berperang.
3.      Karena perencanaan yang matang dari Rasulullah dan para sahabat serta rasa tawakal mereka yang tinggi pada Allah lah yang akhirnya membuat Allah mengirimkan bantuan pasukan malaikat untuk mendongkrak moral dan keyakinan pasukan Islam di medan perang.
4.      Begitu dekatnya petunjuk yang diterima Rasulullah dari Rabbnya membuat beliau terhindar dari berbuat kesalahan. Terkait dengan tawanan perang, Allah memberi petunjuk kepada Rasulullah tentang pilihan yang lebih tepat dan akhirnya Rasulullah memperbaikinya[2]

B.Perang Uhud
Sejarah perang Uhud
Kekalahan Quraisy dalam perang Badar membuat mereka ingin melakuakan menumpahakan balas dendam. Makkah terbakar kebencian terhadap orang-orang muslim karena kekalahan mereka diperang Badr dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat ini. Bahkan karenannya Quraisy melarang semua penduduk Mekkah meratapi para korban di Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang muslim tidak merasa diatas angina karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.
Pasca perang Badr, semua orang Quraisy sepakat unuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap orang-orang muslim, agar kebencian mereka bisa terobati dan dendam mereka bisa tebalaskan. Karena itu mereka mengadakan persiapan untuk terjun ke arena peperangan sekali lagi. Diantara pemimpin Quraisy yang saling bersemangat mengadakan persiapan perang adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Abu Rabi’ah. Tindakan pertama yang mereka lakukan ialah mengumpulkan kembali barang dagangan yang bisa diselamatkan Abu Sufyan dan yang menjadi sebab pecahnya perang Badr. Mereka juga menyeru kepada orang-orang yang banyak hartanya, “Wahai semua orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membuat kalian ketakutan dan membunuh orang-orang terbaik di antara kalian. Maka tolonglah kami dengan harta kalian untuk memeranginya. Siapa tahu kita bisa menuntut balas.” Mereka memenuhi seruan ini, hingga terkumpul seribu unta dan seribu lima ratus dinar. Tentang hal ini allah menurunkan ayat:
اِنَّ الّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ لِيَصَدُّوْا عَنْ سَبِيلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَ تَكُوْنَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمّ يُغْلِبُوْنَ .الأنفال: 36                  Sesunggunhya orang-orang kafir itu , menajkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (Al-Anfal).
Abu Sufyan adalah orang yang paling bersemangat melakukan persiapan menghadapi orang-orang muslim, setelah dia kembali dari perang Sawiq dengan tangan hampa, dan bahkan dia kehilangan harta yang cukup banyak saat itu. Api semakin menyala setelah yang terakhir kali orang-orang Quraisy kehilangan barang dagangannya ditangan satuan pasukan muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah, dan bahkan mengancam ekonomi mereka. Kesedihan dan kegelisahan yang bertumpuk-tumpuk ini semakin mendorong mereka untuk cepat-cepat mengadakan persiapan perang melawan orang-orang muslim.

Bermusyawarah untuk Menetapkan Strategi Defensif
Pembagian pasukan jihad ini menjadi beberapa kelompok keberangkatannya ke Medan perang Nabi SAW mendirikan salat jumat dengan orang-orang muslim, menyampaikan petuah dan perintah kepada mereka dengan penuh semangat, mengabarkan bahwa kemenangan pasti akan diraih selama mereka sabar serta memerintahkan untuk bersiap-siap menghadapi musuh. Apa yang disampaikan beliau ini disambut gembira oleh semua orang. Orang-orang sudah menunggu-nunggu Nabi SAW yang belum keluar dari rumah. Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair berkata, “Rupanya kalian telah memaksa Rasulullah SAW”
Keputusan masalah ini diserahkan kepada keputusan musyawarah. Setelah beliau keluar rumah, mereka berkata, “wahai Rasulullah. bukan maksud kami untuk menentang engkau. Berbuatlah menurut kehendak engkau. Jika memang engkau lebih suka untuk menetap di Madinah maka lakukanlah. “beliau menjawab, “tidak selayaknya bagi seorang nabi apabila sudah mengenakan baju besinya, untuk meletakannya kembali, hingga allah membuat keputusan antara dirinya dan musuhnya. beliau membagi pasukannya menjadi tiga kelompok:
1.      Kelompok muhajirin, dibawah kepemimpinan Mush’ab bin Umar Al-Abdary.
2.      Kelompok Aus, yang kepemimpinanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
3.      Kelompok Khazraj, yang dipimpin Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh.

Pasukan ini terdiri dari seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi dan lima puluh orang penunggang kuda. Ada yang berpendapat, kali ini tak seorangpun yang menunggang kuda. Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum, terutama untuk mengimami salat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun kemudian dia juga diperbolehkan untuk ikut serta. Pasukan bergerak ke arah utara. Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubadah berjalan dihadapan Rasulullah SAW sambil mengenakan baju besi.[3]

Strategi defensif dalam perang
Disana Rasulullah SAW membagi tugas kpasukannya dan membariskan mereka sebagai persiapan untuk menghadapi pertempuran. Beliaua menunjuk satu detasemen yang terdiri dari para pemanah ulung. Komandan ini diserahkan kepada Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man Al-Anshary Al-Ausy. Beliau memerintahkan agar mereka mednempati posisi diatas bukit, sebelah selatan Wadi Qanat, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Jabal Rumat. Posisi tepatnya kira-kira seratus lima puluh meter dari posisi pasukan muslimin. 
Tujuan dari penempatan detasemen ini disampaikan Rasulullah SAW kepada para pemanah. Beliau bersabda “lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerangt kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita diatas angin atau pun terdesak, agar kita  tidak diserang dari arahmu. Beliau juga bersabda kepada para pemanah itu, “lindungilah punggung kami. Jika kalian meliat kami sedang bertempur, maka kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian meliat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.”
Dalam riwayat Al-Bukhary disebutkan, beliau bersabda, “jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali jika ada utusanku yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian.
Dengan ditempatkannya pasukan pemanah diatas bukit dengan disertai perintah-perintah militer yang keras ini, maka beliau sudah bisa menutup satu celah yang memungkinkan bagi kavaleri Quraisy untuk menyusup ke barisan orang-orang muslim dari arah belakang dan mengacaukannya. Pasukan muslim disayap kanan dikomandoni Al-Miqdad bin Al-Amr, disayap kiri dikomandoni Az-Zubair bin Al-Awwam, dan masih didukung oleh satuan pasukan yang dikomandoni Al-Miqdad bin Al-Aswad.  Az-Zubair bertugas menghadang kavaleri (penunggang pasukan kuda) Quraisy yang dipimpin Khalid bin Al-Walid (yang saat itu masih kafir).
Dibarisan terdepan ada sejumlah orang yang pemberani, tokoh-tokoh yang dikenal gagah perkasa dan tangguh, yang kemampuannya bisa disamakan dengan beribu-ribu orang. Pengaturan ini merupakan strategi yang sangat bijaksana dan sekaligus amat detail, yang menggambarkan kecerdikan Rasulullah SAW sebagai seorang komandon perang. Beliau memilih tempat yang strategis, padahal kedatangan beliau disana didahului pasukan musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan yang terlindung oleh ketinggian bukit. Sedangkan sayap kiri pasukan terlindungi oleh satu-satunya tebing yang ada disitu. Beliau memilihkan tempat yang relative lebih tinggi dari pasukannya. Jika terdesak, anggota pasukannya tidak mudah menyerah lalu melarikan diri, yang justru membuka peluang bagi musuh untuk menghabisi dan menawan mereka.
Jika mereka terus bertahan, musuh justru bisa mengalami kerugian yang besar, apalagi jika musuh berusaha untuk terus mendesak maju. Sementara musuh tidak mempunyai pilihan lain untuk menyerang mereka dari sisi lain. Sebaliknya, jika kemenangan berpihak kepada pasukan muslimin, maka musuh tidak dapat menghindari dari kejaran mereka. Disamping semua itu, yang terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa dan pemberani.
Begitulah Nabi SAW mengatur pasukannya pada hari sabtu pada tanggal 7 syawwal 3 H.

Rasulullah mengobarkan patriotism prajurit
Rasulullah SAW melarang semua pasukan untuk melancarkan serangan kecuali atas perintah beliau. Dalam peperangan ini beliau mengenakan dua lapis baju besi. Beliau menganjurkan untuk berperang, meningkatkan kesabaran dan keteguhan selama peperangan, merupakan keberanian dan patriotisme di tengah sahabat. Sambil menghunus pedang yang tajam beliau berseru, “siapakah yang ingin mengambil pedang itu menurut haknya?”
Ada beberapa orang yang maju kehadapan beliau, siap untuk mengambilnya, diantaranya Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Umar bin Al-Khattab. Namun pedang itu belum juga diserahkan kepada seorang pun, hingga Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju ke depan sambil bertanya, “apa haknya wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyabetkan pedang ini ke wajah-wajah musuh hingga bengkok.”
“aku akan mengambilnya menurut haknyna Rasulullah,” jawab Abu Dujanah. Lalu beliau memberikan pedang itu kepadanya. Abu Dujanah adalah seorang laki-laki pemberani tanpa menutup-menutupi dirinya di muka umum dalam kancah peperangan, sehingga terkesan sombong. Dia mempunyai sorban warna merah. Jika sorban itu sudah ia kenakan, maka semua orang tahu bahwa dia akan berperang hingga mati setelah mengambil pedang dari beliau, maka dia mengikaittkan sorban merahnya di kepala, lalu dia berjalan mengabil tempat diantara dua pasukan. Saat itud Rasulullah SAW bersabda, “sungguh iu adalah jalanya yang di benci oleh allah keculi seperti  di tempat ini.”[4]
Strategi Rasulullah Menghadapi orang-orang Kafir Makkah
a.       .Rasulullah menyusun strategi yang akurat untuk menghadapi orang-orang musyrik Quraisy. Rasulullah memilih lokasi yang tepat, memilih orang-orang yang layak untuk ikut berperang dan menolak mereka yang tidak layak. Memilih lima orang pasukan pemanah dengan menekankan wasiat kepada mereka. Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga bagian, kemudian beliau memberikan bendera kepada salah seorang anggota dari masing-masing bagian. Kelompok pasukan tersebut adalah:
1.      Pasukan muhajirin, bendera dipegang oleh Mush’ab bin Umair.
2.      Pasukan Aus dari golongan Anshar, bendera dipegang oleh Usaid bin Hudhair.
3.      Pasukan Khazraj dari golongan Anshar, bendera dipegang oleh Al-Hubab bin Al-Mundzir.
    b.Rasulullah memberikan motivasi kepada segenap pasukan agar tak gentar memerangi para musuh dan bersabar di medan perang, supaya jiwa mereka kuat dan tegar menghadapi lawan. Kemudian Rasulullah berkhutbah “wahai sekalian kaum muslimin, aku wasiatkan kepada kamu suatu wasiat yang diwasiatkan allah kepadaku dalam kitab_Nya, agar kamu patuh dan taat kepada_Nya, menjauhi perbuatan yang diharamkan. Hari ini kamu berada ditempat pembalasan dan persediaan amal, bagi orang yang ingat akan tugasnya. Kemudian ia melaksanakannya dengan sabar, yakin dan kerja keras. Sesungguhnya jihad melawan musuh itu berat dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya allah bersama orang yang taat kepada_Nya, dan setan bersama orang yang tidak taat kepada allah. Awalilah perbuatan kamu dengan sabar melaksanakan jihad. Berpegangteguhlah kamu dengan hal itu sesuai dengan janji allah terhadap kamu. Laksanakanlah apa yang aku perintahkan kepada kamu, sesungguhnya aku sangat mengharapkan tindakan yang benar dari kamu. sesungguhnya saling berselisih dan bertengkar itu adalah kelemahan dan tidak disukai allah. Dan allah tidak akan memberikan pertolongan dan keberuntungan dengan semua itu.”
        Khutbah rasulullah memiliki beberapa tujuan:
1.      Memberi motivasi agar kaum muslimin bekerja keras dimedan perang
2.      Memberi motivasi agar kaum muslimin bersabar dalam memerangi musuh
3.      Menjelaskan kepada kaum muslimin dampak dari sikap pertikaian dan pertengkaran.
Petunjuk rasulullah ini mengajarkan kepada kita tentang beberapa hakikat kebenaran yang kokoh, bahwa betapapun besarnya persenjataan dan strategi suatu pasukan, sesungguhnya itu tidak berarti apa-apa, kecuali jika dibarengi dengan jiwa yang kuat, jiwa-jiwa yang berani mati, dan lebih mengharapkan kematian daripada kehidupan. Kekuatan ini diberikan kepada pasukan tentara dengan memberikan nasehat, arahan, menanamkan cinta jihad dan syahid ke dalam jiwa mereka.
     b.Rasulullah mengetahui betapa pentingnya keberadaan bukit uhud untuk melindungi pasukan kaum muslimin. Ketika pasukan sampai di bukit uhud, Rasulullah memerintahkan agar punggng mereka mengarah ke bukit Uhud dan wajah mereka mengarah ke kota Madinah. Rasulullah memilih lima puluh orang pemanah handal dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Rasulullah menempatkan mereka diatas bukit Ainain yang berhadapan dengan bukit Uhud untuk mencegah pasukan musyrik medekat dan menyusup disekitar pasukan kaum muslimin. Rasulullah mengeluarkan perintah kepada mereka, “jika kalian melihat kami kalah, maka janganlah meninggalkan tempat kamu ini, hingga aku mengutus utusan kepada kalian. Dan jika kalian lihat kami menang, maka jangan pula kalian tinggalkan tempat ini hingga aku mengutus seorang utusan kepada kalian.” Rasulullah mengingatkan kepada para pasukan, “janganlah kalian meninggalkan tempat ini hingga aku memberi izin kepada kalian.” Rasulullah juga berkata, “janganlah salah seorang kalian membunuh hingga aku memberikan perintah kepadanya.” Rasulullah berkata kepada kepada pemimpin pasukan pemanah, “lindungilah kami dengan anak panah. Panahlah mereka agar mereka tidak menyerang kami dari belakang. Dan tetaplah berada di tempatmu. Sesungguhnya peperangan ini bisa menjadi kemengan menjadi bagi kita atau kekalahan.” Rasulullah berkata kepada pasukan pemanah, “Tetaplah berada di tempat kalian, janganlah kalian meninggalkan tempat kalian. Jika kalian melihat menyalahakan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian. Jika kalian melihat kami terbunuh, janganlah kalian menyelamatkan dan mempertahankan kami dengan meninggalkan tempat kalian. Akan tetapi cukup panahlah mereka. Sesungguhnya kuda tidak akan maju kearah panah. Kita akan menang, jika kalian tetap berada ditempat kalian. Ya allah, aku bersaksi kepada_Mu.
     c.Meluruskan Barisan dan Penertiban Pasukan
Rasulullah dan para sahabat maju meluruskan barisan seperti barisan shalat. Rasulullah berjalan meluruskan barisan tersebut. Rasulullah menyusun barisan tersebut dengan mengatakan, “majulah wahai fulan!” mundurlah wahai fulan!” Rasulullah meluruskan barisan mereka hingga barisan tersbut benar-benar lurus. Rasulullah menempatkan orang-orang yang kuat pada barisan depan agar mampu memberikan jalan bagi pasukan yang ada dibelakang.
     d.Tidak menyerang kecuali atas perintah pimpinan perang
Imam Ath-Thabari berkata, “punggung Rasulullah dan pasukannya menghadap ke arah bukit Uhud. Beliau berkata, “janganlah salah seorang dari kalian menyerang lawan hingga kami memerintahkannya untuk menyerang.” Terdapat pelajaran penting dalam arahan ini, yaitu adanya satu komando perang, karena Rasulullah lebih mengetahui apa yang lebih baik bagi mereka.[5]
Hikmah Perang Uhud
     Ibnu Qayyim telah membahas hikmah dan sasaran lebih jauh dari peperangan ini. Ibnu Hajar menuturkan, para ulama berkata, "kisah mengenai Perang Uhud dan akhir yang menimpa orang-orang muslim mengandung berbagai faidah dan hikmah Rabbani, diantaranya, memperlihatkan kepada orang-orang muslim akibat yang sangat tidak menguntungkan dari kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya adalah tindakan para pemanah yang meninggalkan posnya diatas bukit, padahal Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka tidak meninggalkan tempat itu, bagaimanapun keadaan inti pasukan muslimin. Kemudian, seperti yang biasa terjadi pada diri pada rasul, jika mereka mendapatcobaan tentu akan disusul dengan kesudahannya.
     Hikmah dari cobaan ini, jika para rasul terus-menerus mendapat kemenangan, maka orang-orang yang sebenarnya tidak termasuk golongan mereka juga ikut bergabung, sehingga sulit dibedakan mana orang yang baik dan yang tidak baik. Sebaliknya, jika mereka terus-menerus kalah, maka tujuan pengutusan mereka tidak tercapai. Hikmahnnya, akan tampak jika sesekali menag dan sesekali kalah, agar orang yang membenarkan dapat dibedakan dari orang yang mendustakan.  Sebab kemunafikan orang-orang munafik benar-benar tersamar ditengah orang-orang muslim. Saat kisah ini bergulir dan orang-orang munafik menampakkan belangnya lewat perbuatan dan perkataan mereka, maka semuanya menjadi tampak jelas, sehingga orang-orang muslim mengetahui bahwa ditengah mereka ada musuh. Dengan begitu mereka menjadi lebih waspada.
Tentang kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakannya. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapat cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau. Allah telah menyediakan bagi hamba-hamba_Nya yang mukmin kedudukan yang mulia disisi_Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tapi dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut. Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama allah yang paling tinggi. Inlah yang dikendaki allah bagi mereka. Allah ingin menghancurkan musuh-musuhnya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyika para penolong_Nya. Dengan begitu dosa orang-oramg mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir menjadi menumpuk. [6]     

C.Perang khondaq
Sejarah perang Khondaq
            Setelah orang yahudi mengalami kekalahan dalam peperangan, mereka harus menerima beberapa kehinaan dan pelecehan karena ulah mereka sediri yang berkhianat, berkonspirasi dan melakukan makar, mereka menunggu-nunggu apa yang akan menimpa orang muslim sebagai akibat bentrok fisik dengan kaum quraisy. Mereka kembali merancang konspirasi baru terhadap orang-orang muslim dengan menghimpun pasukan sebagai persiapan untuk memerangi orang muslim mereka merancang dan melaksanakan langkah ini dengan sembunyi-sembunyi dan sangat berhati-hati, ada dua puluh pemimpin dan pemuka Yahudi dari Bani Nadhir yang mendatangi Quraisy di Makkah, mereka mempengaruhi orang-orang Quaraisy agar menyerang Rasulullah SAW dan berjanji akan membantu rencana ini serta mendukungnya, Quraisy menyambutnya dengan senang hati karena mereka sebelumnya tidak bisa memenuhi janji berperang di Badar untuk kedua kalinya.
            Dua puluh orang Yahudi juga pergi ke Ghathafan dan berkeliling keberbagai kabilah arab dengan ajakan sama yang diseruan kepada kaum Quraisy, rencana yang dirancang orang Yahudi dengan menghimpun orang-orang kafir  untuk menyerang Rasulullah SAW dan menghentikan dakwahnya berjalan mulus, secara serentak dari arah selatan dikerahkan pasukan yang terdiri dari Quraisy, Kinanah dan sekutu-sekutu mereka dari penduduk Tihamah, dibawah komandan Abu Sufyan
            Jumlah mereka ada empat ribu prajurit. Bani Sulaiman di Marr Azh-zhahran juga ikut bergabung bersama mereka. Sedangkan dari arah timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri dari Bani Fazarah yang dipimpin Uyainah bin Hishn, Bani murrah yang dipimpin Al-Hadits bin Alif, dan lain-lainnya berjumlah enam ribu orang, disekitar madinah terdapat sepuluh ribu dari pasukan Quraisy dan Yahudi, sedangkan kaum muslimin sekitar tiga ribu orang. informasi tentang rencana merekapun sudah terdengar di Madinah, kemudian Rasulullah SAW menyelenggarakan majlis tinggi permusyawaratan untuk merancang pertahanan. Dalam majlis tersebut seorang shahabat mengemukakan untuk membuat parit sepanjang empat puluh hasta yang digali sebelah utara Madinah.
            Orang-orang muslim bekerja dengan giat dan penuh semangat sekalipun dalam keadaan lapar. Annas berkata,’ masing-masing orang yang menggali parit diberi tepung gandum sebanyak satu genggam tangan lalu dicampur minyak sebagai adonan, kerongkongan mereka jarang tersentuh makanan, sehingga mulut mereka keluar bau yang tidak sedap. Abu Tholib berkata ‘kami mengadukan lapar kepada Rasulullah SAW kami mengganjal perut kami dengan batu, beliau juga mengganjal perutnya dengan dua buah batu’’
            Rosulullah SAW keluar rumah dengan tiga ribu pasukan. Sedangkan parit membatasi posisi mereka dengan pasukan musuh. Madinah diwakilkaan kepada Ibnu Ummi Maktum, para wanita dan anak-anak ditempatkan dirumah khusus sebagai perlindungan kepada mereka. Orang-orang musyrik memutuskan untuk mengepung orang-orang muslim,tetapi mereka tidak siap melakukan pengepungan. Menurut mereka penggalian parit dianggap sebagai siasat perang karena itu mereka tidak pernah memperhitungkannya sama sekali. Orang-orang musyrik hanya bisa berputar-putar didekat parit dengan kemarahannya, mereka terus mencari titik lemah musuh, sementara orang-orang muslim terus memanahi dari sebrang parit agar musuh tidak dapat mendekati parit. Akan tetapi sekelompok orang diantara kaum Quraisy seperti Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan lainnya menemukan lubang parit yang lebih sempit dan akhirnya mereka terjun melewati pari itu, kemudian Ali bin Abu Tholib dan beberapa orang muslim langsung mengepung daerah yang telah dilewati, namun mereka terjun keparit dan melarikan diri dalam keadaan terdesak karena terbunuhnya Amr oleh Ali, sampai sampai Ikrimah bin Abu Jahl meninggalkan tombaknya
            Dapat disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan orang-orang Quraisy untuk menyebrangi parit dan serangan orang-oreng muslim berjalan hingga beberapa hari. Karena adanya parit yang menghalangi pasukan, maka tidak sampai terjadi pertempuran secara langsung. Peperangan terbatas hanya melepaskan anak panah. Sekalipun begitu ada oda orang dari beberapa pihak menjadi korban, yaitu enam dari orang muslimin dan sepuluh dari musyrikin
            Saat kaum muslimin sedang menghadapi perang, Para penghianat bersiap-siap melancarkan aksinya kepada orang-orang muslim.Tokoh penjahat bani Nadhir ( Huyai bin Akhtab)  datang ke perkampungan Bani Quraizhah. Dia menemui Ka’ab bin lan  Asad Al-Quraizy, pemimpin Bani Quraizhah,sekutu dan rekannya. Padahal dia sudah melakukan perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak menolong siapapun yang hendak memerangi beliau. Huyai terus menerus membujuk ka’ab hingga akhirnya Huyai bersumpah atas nama Allah dan berjanji ‘’jika orang-orang Quraisy dan Ghatafan mundur, mereka tidak jadi menyerang Muhammad maka aku akan bergabung denganmu di dalam bentengmu dan aku sanggup menanggung akibatnya denganmu’’ kemudian ka’ab bergabung dengan orang-orang musyrik untuk memerangi orang-orang muslim, ketika itulah orang-orang yahudi bangkit untuk memerangi orang muslim.
Allah berfirman tentang mereka
dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan ormg-orng yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “allah dan rasulnya tidak enjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” Dan ingatlah ketika segoongan diantara mereka berkata, “hai penduduk yastrib (madinah) didak ada tempat bagi kalian, maka kembalilah dan sbagian dari mereka meminta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “sesungguhnya rumah-rumah kami (tidak ada penjaga) dan rumah-rumah itu sesekali tidak terbuka mereka tidak lain hanyalah hendak lari” (al-ahzab,33:12-13).
            Sementara tempat penampungan para wanita dan anak-anak tidak jauh dari posisi Bani Quraizhah yang berhianat dan tempat itu tidak dijaga pasukan namun orang Quraisy mengira mereka sangat dijaga ketat akhirnya mereka tidak berani menyerang. Setelah mendengar penghianatan bani Quraizhah, Rosulullah SAW memikirkan beberapa strategi salah satunya adalah mengutus beberapa penjaga ke Madinah untuk  menjaga para wanita dan anak-anak, beliau juga membuat perjanjian dengan Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin Auf dan pemimpin Ghatafan bahwa beliau akan menyerahkan seper tiga hasil panen kurma di Madinah kepada mereka, asal mereka berdua mau mengundurkan diri dari kancah bersama kaumnya, lalu membiarkan beliau menghantam Quraisy, akan tetapi mereka tidak mau membagi hartanya kecuali dengan cara jual beli ataupun sedang menjamu
            Ada seorang dari Ghafatan yang bernama Nu’aim BIN Mas’ud  bin Amir Al-syaja’y yang menemui Rosulullah SAW dan berkata “sesungguhnya aku telah masuk islam tetapi kaumku tidak mengetahui keislamanku, maka perintahkanlah kepadaku apapun yang engkau kehendaki”, sabda Rosulullah SAW “berilah pertolongan kepada kami  menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat”. Kemudian Nu’aim menemui bani Quraizhah yang menjadi temannya semasa jahiliyah, Nu’aim membujuk mereka agar tidak mendukung kaum Quraisy dan Ghatafan untuk membinasakan Rosulullah SAW dan kaum muslimin, jika kaum Quraisy dan Ghatafan memenangmakan negeri,harta benda dan wanita-wanita berada ditempat lain yang akan dipergunakan sebaik-baiknya dan mereka akan kembali lagi ke negri mereka dan meninggalkan bani Quraizhah beserta muhammad yang akan melampiaskan dendamnya. Akhirnya mereka beranggapan bahwa pendapat yang dikemukakan Nu’aim sangatlah tepat.
            Nu’aim juga menemui Quraisy dan orang-orang Ghathafan dan berkata “rupanya orang-orang Yahudi merasa menyesal karena telah melanggar perjanjian Muhammad dan rekan-rekannya, secara diam-diam mereka mengirim utusan menemui Muhammad bahwa mereka hendak meminta jaminan kepada kalian, lalu jaminan itu akan mereka serahkan kepada Muhammad, yang tentu saja mereka berpaling dari kalian. Jika mereka meminta jaminan kalian tidak perlu memberikannya kepada mereka”
            Malam sabtu bulan Syawal 5 H, orang-orang Quratsy mengirim utusan untuk menemui orang-orang yahudi mengajaknya untuk menghabisi Muhammad. Orang-orang Yahudi juga mengirim utusan untuk menemui orang-orang Quraisy untuk menyampaikan pesan bahwa mereka tidak mau ikut berperang kecuali mereka diberikan jaminan. Dengan begitu artinya Nu’aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan menimpakan perpecahan dibarisan musuh sehingga semangat mereka menjadi turun
            Setelah muncul perpecahan dibarisan orang-orang musyrik Allah mengirimkan angin topan yang mengakibatkan robohnya kemah-kemah dan mereka bersiap-siap untuk kembali ke Makkah. Pada malam itu juga Rasulullah mengutus Hudzaifah bin Al-yaman untuk menemui orang-oang Quraisy dan kembali lagi membawa kabar senang dengan keadaan mereka.
            Perang Khondak ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah pada bulan Syawal dan berakhir pada tahun Dzul Qa’idah. Menurut riwayat ibnu Sa’d, Rasulullah kembali dari khondak pada hari rabu, seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qa’idah. Perang khondak atau perang ahzab bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian, tetapi merupakan pertempuran yang tidak memakan banyak korban. Dalam catatan sejarah islam, perang khondaq merupakan perang yang berakhir dengan pelecehan dipihak pasukan musyrikin dan memberi kesan bahwa kekuatan sebesar apapun di Arab tidak akan sanggup melumpuhkan kekuatan yang lebih kecil yang sedang makar di Makkah. Sebab bangsa arab tidak sanggup menghimpun kekuatan yang lebih besar daripada pasukan Ahzab. Rosulullah SAW bersabda ”ketika Allah sudah mengalahkan musuh. Sekarang kitalah yang ganti menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita, kitalah yang akan mendatangi mereka’’.[7]
Strategi perang khondaq
1.      Membuat parit sepanjang empat puluh hasta yang digali sebelah utara Madinah
2.      Mengutus beberapa penjaga ke Madinah untuk  menjaga para wanita dan anak-anak
3.      Membuat perjanjian dengan Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin Auf dan pemimpin Ghafatan bahwa beliau akan menyerahkan seper tiga hasil panen kurma di Madinah kepada mereka, asalkan mereka berdua mau mengundurkan diri dari kancah bersama kaumnya, lalu membiarkan beliau menghantam Quraisy, akan tetapi mereka tidak mau membagi hartanya kecuali dengan cara jual beli ataupun sedang menjamu
4.      Menemui bani Quraizhah yang menjadi temannya semasa jahiliyah, Nu’aim membujuk mereka agar tidak mendukung kaum Quraisy dan Ghatafan untuk membinasakan Rosulullah SAW dan kaum muslimin.
Hikmah Perang Khondaq
1.      Selama penggalian parit terjadi beberapa tanda nubuwah yang berkaitan dengan rasa lapar yang mendera mereka, Janir bin Abdullah melihat Rasulullah yang tersiksa karena kelaparan kemudian dia menyembelih satu hewan dan istrinya menanak shatu sha’ tepung gandum. Setelah masak Jabir membisiki Rasulullah agar datang kerumahnya bersama beberapa shahabatnya saja, tetapi beliau justru mengajak semua orang yang menggali dengan berjumlah hambir seribu orang, lalu mereka melahap makanan yang tak sebegitu berapa banyak hingga semunya kenyang, bahkan masih ada sisa daging dan adonan tepungnya
2.      Saat An-Nu’man bin Basyir datang ketempat penggalian parit sambil membawa kurma setangkup tangan untuk diberikan kepada ayah dan pamannya, kemudin Rasulullah meminta kurma dan meletakkannya diselembar kain, setelah itu beliau memanggil semua orang untuk memakannya, ternyata setangkup kurma tersebut masih menyisa dengan jumlah yang banyak hingga tercecer dari hamparan kain
3.      Saat menggali parit terdapat tanah yang sangat keras yang tidakbisa digali dengan cangkul kemudian mereka melaporkan kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah SAW menghantam tiga kali pukulan disertai dengan menyebut nama Allah SWT, maka hancurlah tanah atau batu yang masih tersisa tersebut
4.      Orang-orang muslim selalu berdo’a “ ya Allah tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami’’ Rasulullah SAW juga berdo’a untuk kemalangan musuh ‘’ ya Allah yang menurunkan kitab dan yang cepat hisabnya, kalahkanlah pasukan, ya Allah kalahkanlah dan guncangkanlah mereka’’. Setelah muncul perpecahan dibarisan orang-orang musyrik dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan angin toufan kepada mereka, sehingga kemah-kemah mereka roboh, dan Allah juga menjadikan hati mereka menjadi ketakutan[8]




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.
Pasca perang Badr, semua orang Quraisy sepakat unuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap orang-orang muslim, agar kebencian mereka bisa terobati dan dendam mereka bisa tebalaskan. Karena itu mereka mengadakan persiapan untuk terjun ke arena peperangan sekali lagi.
Khutbah rasulullah memiliki beberapa tujuan:
1.      Memberi motivasi agar kaum muslimin bekerja keras dimedan perang
2.      Memberi motivasi agar kaum muslimin bersabar dalam memerangi musuh
3.      Menjelaskan kepada kaum muslimin dampak dari sikap pertikaian dan pertengkara
     Perang Khondak ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah pada bulan Syawal dan berakhir pada tahun Dzul Qa’idah. Menurut riwayat ibnu Sa’d, Rasulullah kembali dari khondak pada hari rabu, seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qa’idah. Perang khondak atau perang ahzab bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian
   empat ribu prajurit. Bani Sulaiman di Marr Azh-zhahran juga ikut bergabung bersama mereka. Sedangkan dari arah timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri dari Bani Fazarah yang dipimpin Uyainah bin Hishn, Bani murrah yang dipimpin Al-Hadits bin Alif, dan lain-lainnya berjumlah enam ribu orang, disekitar madinah terdapat sepuluh ribu dari pasukan Quraisy dan Yahudi, sedangkan kaum muslimin sekitar tiga ribu orang.


B.     Kritik dan saran
Dalam pembuatan makalah ini, kami banyak kesalahan dan kekurangan karena kami dalam proses pembelajaran. Maka dari itu kami menerima dengan ikhlas dan lapang dada kritik dan saran dari teman-teman. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau referensi dari  makalah ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah semata.
                                        


Daftar  Pustaka


Al-Wakidi, Kitab Al- Maghazi Muhammad, PT ufuk Publishing House, Jakarta: 2012
Syafiyyurrahman,Sirah Nabawiyah, CV Pustaka islamika, Bandung: 2008
Muhammad Ali. Sejarah lengkap Rasulullah, Pustaka Al- Kautsar, Jakarta: 2012


[1] Al-Wakidi, Kitab Al- Maghazi Muhammad, PT ufuk Publishing House, Jakarta: 2012, hlm 301-302
[2] Ibid,2012, hlm 306-311
[3] Syafiyyurrahman,Sirah Nabawiyah, CV Pustaka islamika, Bandung: 2008, hlm 327-332
[4] Ibid, 330-338
[5] Ali Muhammad. Sejarah lengkap Rasulullah, Pustaka Al- Kautsar, Jakarta: 2012,hlm 17-19
[6] Ibid hlm 378-379
[7]Ibid 2012, hlm 329-330
[8] Ibid hlm 401-407

Komentar

Postingan populer dari blog ini