RASIONALISME : DESCARTES
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah:Filsafat Umum
Dosen
Pengampu:Dra. Siti Munawaroh Thowaf, M.Ag.
Disusun
Oleh:
Maria al suryani (1601036164)
syavinatul aviva (1601036165)
MANAGEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I.PEMBUKAAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 2
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
BABII.PEMBAHASAN
A. ........................................................................................................ 2
B. ........................................................................................................ 2
C. ........................................................................................................ 3
D. ........................................................................................................ 5
BABIII.PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setelah zaman
Renainssans berakhir, kemudiaan dilanjutkan zaman pencerahan. Zaman pencerahan
sangatlah menjunjung tinggi akal budi, kebebasan, dan kemampuan individu untuk
memecahkan segala persoalan yang dihadapi dan kecenderungan untuk
mengenyampingkan peranan tradisi dan otoritas dari luar (gereja dan lain-lain).
Pada zaman
pencerahan terdapat dua aliran yang sangat bertentangan yaitu Rasionalisme dan
empirisisme. Rasionalisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa sumber
pengetahuan sejati adalah akal budi atau rasio, bukan pengalaman. Pengalaman
hanya dapat menegaskan pengetahuan yang didapat dari rasio.
Empirisisme
adalah aliran yang menyatakan bahwa pengalaman adalah sumber utama pengetahuan,
baik pengalaman lahiriah atau batiniah. Rasio bertugas mengelola bahan-bahan
yang diperoleh oleh pengalaman yang nantinya akan dijadikan sebuah pengetahuan.
Adapun para
fisuf-fisuf pada zaman pencerahan ini sangatlah banyak, namun kami akan mencoba
mengulas tentang pemahaman dari aliran Rasionalisme Descartes saja. Dia
merupakan orang yang pertama kali yang mengagas mengenai aliran rasionalisme,
sehingga dia disebut sebagai bapak filsafat modern. Mengenai siapa dan bagaimana pemikiran Descartes
yang akan kami paparkan dalam makalah yang berjudulkan Rasionalisme Descartes.
B.
Rumusan Masalah
1.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat yang
mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh
suatu pengetahuan dan dalam proses menguji sebuah pengetahuan tersebut.[1]
Jika empirisisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam melalui objek
empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh melalui
proses berpikir.
Sedangkan rasionalisme itu sendiri ada dua macam
yaitu: rasionalisme dalam bidang agama dan rasionalisme dalam bidang filsafat.
Dalam bidang agama rasionalisme adalah
lawan dari outoritas, dalam bidang filsafat
rasionalisme adalah lawan dari empirisisme. Namun disini akan
menjelaskan tentang rasionalisme dalam bidang filsafat,
Rasionalisme dalam bidang filsafat berguna
sebagai teori pengetahuan, yang mana sebagai lawan dari empirisisme,
rasionalisme berpendapat bahwa “Bagian penting pengetahuan datangnya dari
penemuan akal” sebagaimana pemahaman tentang logika dan matematiaka.
Penemuan-penemuan logika dan matematika begitu
pasti, kita tidak hanya melihatnaya sebagai sesuatu yang benar, tetapi lebih
dari itu kita melihatnya sebagai kebenaran yang tidak mungkin salah (kebenaran
universal).
B.
Rene Descartes
Descartes
lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di wilayah Taurine Perancis[2]
dan meninggal pada tanggal 11 Februari 1650 di Stockholm[3].
Dua bukunya yang terpenting dalam filsafat murni ialah Discours de la
methode (1637) dan Meditations (1642), kedua buku ini saling
melengkapi satu sama lain. Didalam buku ini pula ia menuangkan metodenya yang
terkenal itu, metode keraguan descartes (cartesian doubt) metode
ini sering juga disebut cogito descartes.
Ia
mengetahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat
haruslah rasio (akal). Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat adalah akal,
ia menyusun argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang didalam
metode cogito.
Metode
cogito filsafat Descartes bemula hanya dengan satu pertanyaan : Apakah metode
yang pasti sebagai dasar melakukan refleksi filosofis?. Untuk menemukan basis
yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan lebih dahulu segala sesuatu yang
dapat diragukan. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan,
dan tidak ingin menerima apapun sebagai sesuatu yang benar.
Tujuannya adalah agar manusia tidak
terperangkap dengan semua pengetahuan yang salah yang diterimanya selama ini
dari luar dan berusaha untuk mencari kebenaran yang pasti dengan nalar yang
dimiliki manusia itu sendiri sehingga tidak ada lagi kemungkinan manusia untuk
mendapatkan pengetahuan yang salah. Namun
apabila segala sesuatu dapat diragukan hanya ada satu hal yang tidak dapat
diargukan yakni kenyataan bahwa aku yang sedang meragukan segala hal itu ada.[4]
C. Keraguan Sebelum Keyakinan
D. Wujud Jiwa
Keraguan
terhadap segala sesuatu dalam pengethuan kita dapat menyampaikan kita pada
sebuah kebenaran yang tidak diragukan. Maka menimbulkan suatu kesimpulan dari
berpikir panjangnya sebuah ucapan yang terkenal dengan sebutan cogito ergo
sum (aku berpikir maka aku ada).
E. Bukti Adanyya Tuhan
Bukti
pertama: disini Descartes menggunakan metode keraguan, sebagai berikut:
1. Keragua adalah bukti bahwa manusia menyadari bahwa dirinya terbatas.
2. Akan tetapi manusia dapat menyadari kekurangan tersebut dengan konsep
kesempurnaan.
3. Tidak mungkin konsep kesempurnaan dapat diwujudkan oleh dirinya, karena
dirinya memiliki kekurangan.
4. Jadi, konsep tersebut diletakkan dalam jiwa kita oleh sesuatu yang sempurna
pula yaitu Allah.
Bukti kedua: dinamakan bukti
ontologis-eksistensialis yaitu “ketika pikiran memilih berbagai konsep, ia akan
menemukan konsep eksistensi yang Maha Tahu di atas segala sesuatu, yaitu Allah”
Bukti ketiga: menggunakan pembuktian adanya
jiwa. Adanya jiwa karena diciptakan, ketika aku yang menciptakannya bukankah
aku akan menciptakan jiwa yang sempurana yang aku inginkan?. Dengan demikian,
jika kita ada karena akibat dari sesuatu yang lainnya, yaitu Alllah.
F. Wujud Alam Luar
Dalam
penetapan ini Descartes menjadikan akal sebagai penentu, yang mana iya merubah
pola pikir menanjak dari wilayah indrawi ke wilayah rasion menjadi turun dari
wilayah rasional ke wilayah indrawi dan Ia menegaskan bahawa alam itu “Ada”.
Ada atau wujud menurut Descartes di bagi menjadi dua yaitu:
1. Substansi berpikir non-material, yaitu spirit (ruh) yang berbeda hakikat
dan fungsinya dari bentuk-bentuk material.
2. Substansi yang terbentang dalam ruang, yaitu bentuk maretial yang selalu
bergerak terus menerus yang menjadikannya adalah Allah.
G. Pengetahuan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
_ Tafsir
Ahmad. 2003. FILSAFAT UMUM (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra). Bandung:PT
REMAJA ROSDAKARYA.
_L. Simon
Tjahjadi. 2004. PETUALANGAN INTELEKTUAL (Kontrofersi Filsuf dari Zaman
Yunani Hingga Zaman Modern). Yogyakarta:Kanisius
_Farid Fuad
Ismail, Abdul Hamid Mutawali. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat.
Jogjakarta:IRCiSoD
[1]
Ahmad Tafsir. 2003. FILSAFAT UMUM (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra).
Bandung:PT REMAJA ROSDAKARYA. hlm.
127
[2]
Fuad Farid Ismail, Abdul
Hamid Mutawali. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat. Jogjakarta:IRCiSoD.
hlm. 71.
[3]
Simon L. Tjahjadi. 2004. PETUALANGAN
INTELEKTUAL (Kontrofersi Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern).
Yogyakarta:Kanisius. hlm. 207.
[4]
Simon L. Tjahjadi. 2004. PETUALANGAN
INTELEKTUAL (Kontrofersi Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern).
Yogyakarta:Kanisius. hlm. 209.

Komentar
Posting Komentar